Dilema People Pleaser vs Si Paling Mandiri Terjebak Standar Kegunaan Diri
- 17 Mei 2026 21:42 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Pernahkah kamu merasa seperti barang di pojokan kamar? Dicari setengah mati saat dibutuhkan, tapi langsung diabaikan begitu urusannya selesai.
Dilema eksistensial ini menjadi sorotan utama dalam siaran radio 'CERPEN: Cerita Penutup Hari' bersama penyiar Pro 2 RRI Wamena, Fajar Rahman, yang mengangkat tema hangat “Seberapa Dibutuhkannya Kita?” (17/5).
Dalam siarannya, Fajar menyoroti bagaimana anak muda kerap terjebak dalam lingkaran pertemanan, dunia kerja, hingga asmara yang toxic, di mana validasi diri hanya muncul ketika mereka dianggap 'berguna' oleh orang lain.
Topik ini memicu gelombang curhatan dari para pendengar, memotret dua sisi ekstrem psikologis anak muda zaman sekarang dalam memandang sebuah bantuan.
Akmal, salah satu teman Pro 2, membagikan sudut pandangnya yang relate dengan fenomena people pleaser. Ia mengaku bahagia bisa membantu orang lain, bahkan orang asing sekalipun. Namun, ia menyimpan luka emosional saat tidak dilibatkan oleh orang-orang terdekatnya.
"Rasanya itu sakit, tapi sakit yang gak bisa digambarin gitu lho, Kak Fajar," curhat Akmal. Baginya dan banyak anak muda lainnya, tidak dimintai bantuan oleh orang terdekat sering kali disalahartikan sebagai tanda bahwa kehadiran mereka sudah tidak lagi berharga.
Berbanding terbalik dengan Akmal, pendengar lain bernama Astrid justru mewakili kelompok anak muda yang mengalami hyper-independence. Astrid memilih prinsip untuk sebisa mungkin menyelesaikan segala sesuatunya sendirian.
"Takutnya kita malah ngerepotin dan jadi beban buat orang lain," ungkap Astrid. Prinsip ini bahkan membuat Astrid menerapkan standar yang sama ke orang sekitarnya, dengan berharap orang lain tidak mudah memaksakan kehendak untuk meminta tolong jika masih bisa berusaha sendiri.
Menanggapi dinamika tersebut, Fajar mengingatkan bahwa menjadi 'tidak dibutuhkan' untuk sementara waktu bukanlah sebuah kegagalan sosial. Sebaliknya, itu adalah sinyal dari semesta agar anak muda bisa mengambil jeda.
"Kam pu nilai diri itu tidak ditentukan dari seberapa sering HP yang bergetar malam ini karena dicari orang. Kalian tetap berharga, baik saat dunia sedang mengelu-elukan, maupun saat dunia sedang sibuk dengan urusannya masing-masing," ujar Fajar dalam monolog penutupnya yang menenangkan.
Momen sepi saat tidak dicari oleh siapa pun justru menjadi waktu terbaik untuk "pulang ke diri sendiri", melepaskan semua topeng kepura-puraan, dan rehat dari ekspektasi sosial yang melelahkan.
Di akhir siaran, sebuah pesan hangat ditinggalkan untuk seluruh anak muda yang sedang berjuang mencari keseimbangan hidup 'sudah saatnya mematikan layar gawai, merebahkan badan, dan mulai mencintai diri sendiri tanpa syarat'.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....