Pengangguran Putus Asa dari Gen Z dan Milenial
- 15 Des 2025 11:22 WIB
- Wamena
KBRN, Jakarta: Laporan terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) menyoroti tantangan fenomena 'pekerja yang putus asa' (discouraged workers) didominasi oleh generasi muda.
Secara keseluruhan, 48,6% dari total populasi pekerja yang putus asa yaitu individu yang tidak bekerja dan telah berhenti mencari pekerjaan karena merasa tidak ada harapan berasal dari Generasi Z dan Milenial.
Data tersebut menunjukkan adanya jurang yang semakin lebar antara ambisi karier generasi muda dengan realitas pasar tenaga kerja. Analisis LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa kelompok usia produktif ini menjadi yang paling rentan.
Milenial menyumbang sekitar 25% dari total populasi pekerja yang putus asa. Sedangkan Gen Z berkontribusi sebesar 24%, angka yang signifikan mengingat mereka adalah generasi termuda yang baru memasuki dunia kerja.
Stereotip tentang Generasi Z seringkali mengacu pada sifat mereka yang adaptif, mahir teknologi (tech-savvy), dan fleksibel. Namun, data pasar kerja membantah narasi ini.
Meskipun banyak pencari kerja Gen Z telah memiliki keterampilan digital dasar, laporan ini menggarisbawahi bahwa pasar tenaga kerja modern menuntut lebih dari sekadar familiaritas teknologi.
Tuntutan Utama Pemberi Kerja:
- Pengalaman Kerja: Kualifikasi yang sering kali sulit dipenuhi oleh lulusan baru (fresh graduate).
- Portofolio Berbasis Kompetensi: Kemampuan yang teruji dan bukan hanya nilai akademis.
- Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem-Solving Abilities): Keterampilan kritis yang sangat dibutuhkan di lingkungan profesional.
Ketidakcocokan atau mismatch antara keterampilan yang dimiliki lulusan baru dan tuntutan tinggi dari pemberi kerja inilah yang menjadi akar masalah. Hal ini menjelaskan mengapa banyak anak muda, meskipun memiliki potensi besar, kesulitan mendapatkan pekerjaan yang stabil dan akhirnya memilih untuk menarik diri dari proses pencarian kerja.
LPEM UI menegaskan bahwa penemuan ini mencerminkan tantangan utama dalam studi pembangunan, yaitu mengatasi kesenjangan antara aspirasi dan realitas pasar tenaga kerja.
Sumber: LPEM FEB Universitas Indonesia (UI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....