Kementan Siapkan Subsidi Benih untuk 1 Juta Hektare Lahan pada 2027

  • 10 Sep 2026 18:45 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID – Wamena, Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produktivitas padi melalui perluasan akses benih bersubsidi bagi petani. Pemerintah menyiapkan dukungan benih untuk sedikitnya 1 juta hektare lahan pada 2027 guna meningkatkan produksi gabah nasional dan memperkuat ketahanan pangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program subsidi benih akan dikembangkan secara masif di berbagai wilayah Indonesia. Kebijakan tersebut diharapkan mendorong petani menggunakan benih unggul sekaligus menerapkan metode budidaya modern.

Salah satu teknologi yang didorong adalah Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang disebut mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 10–13 ton per hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang rata-rata menghasilkan sekitar 5–6 ton per hektare.

“Ini adalah pusat pembenihan padi terbesar di Asia Tenggara. Kita jaga, kita kawal. Hasilnya itu ada 10 ton hingga 13 ton,” ujar Amran.

Peningkatan produktivitas juga didukung penerapan teknik tanam langsung atau direct seeding. Metode tersebut memungkinkan populasi tanaman meningkat dari sekitar 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.

Selain meningkatkan populasi tanaman, direct seeding dinilai dapat meningkatkan efisiensi budidaya karena mengurangi proses persemaian dan pemindahan bibit. Dengan demikian, penggunaan lahan dan indeks pertanaman dapat lebih optimal.

“Tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta hektare untuk benih,” kata Amran.

Pemerintah memperkirakan perluasan subsidi benih dapat memberikan tambahan produksi dalam jumlah besar. Jika peningkatan hasil mencapai sekitar 5 ton per hektare, dukungan benih untuk 1 juta hektare lahan berpotensi menghasilkan tambahan hingga 5 juta ton gabah.

Pusat pembenihan pemerintah juga memiliki kapasitas produksi benih unggul serta menyediakan varietas yang disesuaikan dengan kondisi musim, termasuk varietas tahan kekeringan dan varietas untuk musim hujan.

Modernisasi pertanian turut didorong untuk menghadapi dinamika produksi padi. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, produksi padi berpotensi mengalami penurunan sekitar 0,08 persen atau setara 30 ribu ton.

“0,08 persen kecil sekali, kali 34,6 juta ton aja deh hanya 30 ribu ton, sangat kecil kan,” ujar Amran.

Penerapan PM-AAS juga diperluas di sejumlah daerah. Kepala BRMP Sulawesi Tengah Dr. Ruslan Boy menyebut program tersebut sebagai bagian dari transformasi menuju sistem pertanian yang lebih modern, terukur, dan berdaya saing.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny Lamadjido menilai modernisasi pertanian penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah maupun nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....