Menuku dalam Genggaman, Eksis Mendunia Melawan Pandemi
- 27 Okt 2022 15:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pak Irfan, penjual "Mie Ayam Meranti", tengah mengaduk-aduk mi bersama rajangan sawi dalam dandang rebusan, ketika RRI menyambanginya. Di sebelah dandangnya sudah ada dua kotak stirofoam terbuka, ditutupi bentangan plastik bening lebar di alasnya.
Beberapa saat kemudian, dua tumpuk mi berpindah ke kotak, ditaburi potongan daging ayam lezat di atasnya. Ia menutup stirofoam dengan karet, memasukkannya ke kantong plastik bersama beberapa plastik lebih kecil. Isi plastik-plastik itu kuah, saus, potongan pangsit, dan sambal.
Kantong plastik tersebut adalah satu dari beberapa kantong plastik jinjing yang disiapkan Pak Irfan yang menanti dijemput. Kala pandemi melanda, kantong-kantong plastik pesanan pesan-antar seperti ini menjadi saksi bisu ratusan cerita. Tak terkecuali Pak Irfan, ia memiliki ceritanya sendiri saat menerima pesanan dari pelanggannya.
"Karena banyak dari teman-teman saya juga, terutama yang terpapar ya, dia minta dikirimin GoFood, minta dikirimin mi ayam melalui GoFood. Ada juga teman-teman yang buat temannya untuk dikirimin makanan, terutama makanan mi ayam," kata Pak Irfan di kedainya di Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, saat menceritakan pengalamannya, Selasa (18/10/2022).
"Kebetulan teman saya kirim buat temannya yang lagi terpapar," kata Pak Irfan. Ia menceritakan pengalamannya saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Depok.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Tidak sampai sepekan, pelanggan yang dikirimi mi ayam kesukaannya dari temannya tersebut harus kalah dari pandemi.
Meski demikian, Pak Irfan mengatakan bersyukur dapat membantu banyak pelanggan melewati hari-hari isolasi mandiri di dalam rumah. Sejak PPKM diberlakukan, praktis masyarakat lebih memilih di dalam rumahnya masing-masing, ketimbang berkumpul di kedainya.
Mereka khawatir wabah Covid-19 dapat menulari mereka saat berada di luar rumah. Dan, kedainya yang dapat dicari di aplikasi daring memudahkan pelanggannya untuk memesan mi ayam.
Menggunakan aplikasi GoFood, para pelanggan dapat dengan mudah menemukan kedainya dengan mengetikkan "Mie Ayam Meranti, Pancoran Mas". Sejumlah menu kemudian tertera saat menekan nama kedainya, bersama harga-harganya yang terjangkau.
Mi ayam Pak Irfan ini istimewa. Mi dan racikan potongan-potongan besar filet ayam yang digunakannya adalah hasil olahan dari tangan dinginnya sendiri.
Selera lidah pelanggannya tidak berbohong, karena mi ayam yang dijualnya selalu habis terjual. Namun, pelanggannya terpaksa menahan diri tidak datang ke kedainya saat pandemi melanda.
"Sebetulnya pada saat pandemi itu, omset turunnya lumayan drastis, bisa sampai 60, 70 persen. Tapi, alhamdulillah kebantu dengan adanya penjualan online, terutama dari GoFood, GrabFood, yang pada akhirnya bisa menaikkan omset. Ya 20 sampai 30 persenlah dari turunnya omset," kata Pak Irfan.
Memang tidak bisa dipungkiri, demi menyelamatkan banyak nyawa, pemberlakuan PPKM berdampak besar pada penurunan pendapatan para pedagang. PPKM level 4 misalnya, mensyaratkan para pedagang membatasi maksimal 50 persen kapasitas keterisian pengunjung.
Kesulitan juga tidak hanya dihadapi para pedagang kecil dan besar, para pekerja juga menerima dampak serupa. Pemerintah membatasi maksimal 25 persen pekerja perkantoran non-esensial atau work from office (WFO) di wilayah PPKM level 4.
Moyo, salah satu pegawai swasta di Jakarta, mengalami sulitnya mengakses kebutuhan pangannya saat pemberlakuan PPKM. Pada saat itu, ia bersama rekan-rekannya termasuk 25 persen yang harus bekerja dari kantor. Karena larangan berkumpul, ia memanfaatkan aplikasi GoFood untuk membeli makan siang dirinya dan sesama rekan di kantor.
"Waktu itu kan makan siang, sesuai menunya aja yang ada di GoFood-nya. Apa nih menunya," kata Moyo saat dihubungi RRI, Selasa.
Menggunakan aplikasi pesan-antar GoFood menurutnya cukup membantu mengatasi persoalan mencari makan dan minum. Ini karena banyak kedai, cafe, hingga restoran yang terpaksa tutup untuk pembelian hadir secara fisik.
Menurut Moyo, dengan aplikasi GoFood, ia juga sempat membantu rekannya yang sedang menjalani isolasi mandiri. Memang, bagi mereka yang terpapar Covid-19, isolasi mandiri merupakan salah satu cara mencegah penularan yang meluas. Namun, di sisi lain, mereka kesulitan untuk mencari makan atau minum karena tidak bisa keluar rumah.
"Jadi misalnya ada yang terpapar, dari kantor itu kita ngasih vitamin. Biasanya suplemen vitamin, susu beruang, buah-buahan. Biasanya kita order tuh, nanti tinggal minta alamatnya yang terpapar, penerimanya siapa, kirim langsung," kata Moyo.
"Pernah juga ngirim makan siang. Kita pesenin. Kita instruksiin, di nota kan suka ada catatannya. Kita tulis 'untuk makanan silahkan taruh di pager', misalnya," kata Moyo, menceritakan pengalamannya mengirimkan makanan ke rekannya yang terpapar Covid-19.
"Itu nanti sama si drivernya taruh pager, fotoin, kasih kita," katanya.
Memang, kebijakan PPKM membatasi ruang gerak masyarakat, bahkan hingga memberlakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan. Beruntung, kebijakan ini membolehkan pergerakan barang dan makanan.
Petugas-petugas yang berjaga di titik-titik penyekatan masih mengizinkan pengemudi pesan-antar memasuki area yang disekat. Ini membuat tren penggunaan aplikasi pesan-antar meningkat tajam.
"Pas pandemi, itu yang susah. Mau gak mau main GoFood," kata Syaiful, pengemudi Gojek kepada RRI saat menceritakan pengalamannya saat pandemi melanda, Selasa (13/11/2022).
Ia membenarkan aplikasi GoRide dilarang mengambil penumpang selama beberapa bulan untuk mengurangi pergerakan orang. Namun, Syaiful bersyukur, keuntungan dari aplikasi GoFood-nya dapat menutupi kekurangan yang biasa diperolehnya dari GoRide.
"Kadang ada customer yang ngasih lebih. Kadang-kadang sepuluh ribu, kadang-kadang lima ribu," katanya.
Tidak hanya menebar kebaikan ke sesama, keberadaan aplikasi pesan-antar atau Online Food Delivery (OFD) juga positif bagi perekonomian. Hasil riset Tenggara Strategics menunjukkan penggunaan OFD yang meningkat tajam selama pandemi.
Mereka menemukan bahwa OFD digunakan oleh 64 persen pengguna ponsel pintar di masa pandemi. Dampak positif bagi perekonomian nasional juga besar, dengan kontribusi mencapai Rp78,4 triliun di tahun 2021.
Tenggara Strategics menemukan tiga aplikasi terfavorit yang digunakan untuk pesan-antar selama pandemi: GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Dari tiga aplikasi tersebut, GoFood menjadi yang paling banyak digunakan para pengguna ponsel pintar.
"Memang benar, ternyata paling banyak transaksi itu terjadi di aplikasi GoFood. Di tahun 2021 itu, dari riset kami, kami dapatnya Rp30,65 triliun dan itu merupakan 39 persen dari pangsa pasar OFD di enam kota besar di Indonesia," kata peneliti ekonomi Tenggara Strategics Stella Kusumawardhani kepada RRI di kantornya, Rabu (7/9/2022). Enam kota tersebut di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Surakarta.
Hasil penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia juga menunjukkan dampak positif. Mereka mencatat GoFood menjadi penyangga ekonomi bagi mereka yang penghasilannya terdampak pandemi, terutama pegawai swasta.
"Riset ini juga menunjukkan bahwa sektor swasta turut terkena dampak dari pandemi. Proporsi mitra GoFood baru yang berasal dari pegawai swasta adalah sebesar 24 persen, sedangkan sebelum pandemi proporsi mitra dari pegawai swasta hanya 18 persen," kata Alfindra, peneliti Lembaga Demografi FEB UI dalam keterangan tertulis, Rabu (3/8/2022).
"Selain itu, mitra yang tidak punya pengalaman usaha sebelumnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 43% dibandingkan pendaftar sebelum pandemi. Maka, tampak bahwa usaha kuliner menjadi sumber penghasilan alternatif bagi orang-orang yang kehilangan, atau mengalami penurunan penghasilan selama pandemi," kata Alfindra.
Riset ini juga menemukan mayoritas mitra UMKM menganggap mereka mampu beradaptasi di situasi pandemi karena berada di ekosistem Gojek. Sebarannya adalah 92 persen ada pada mitra UMKM GoFood.
Sebaran berikutnya adalah 97 persen mitra UMKM social seller pengguna GoSe nd. Selain itu, sebaran sebanyak 89 persen datang dari mitra UMKM GoPay.
“Mayoritas (86 persen) UMKM di luar ekosistem Gojek seperti bengkel dan pedagang pasar mengalami peningkatan volume transaksi setelah ada Gojek di kotanya. Yang menarik adalah, lebih dari sepertiga UMKM (33%) mengaku bisa membuka cabang usaha baru setelah ada Gojek di kotanya,” ujar Paksi C.K. Walandouw, peneliti Lembaga Demografi FEB UI.
Husein, penjual "Ketupat Sayur Babeh Gue" di jalan Dahlia, Depok, Jawa Barat, membenarkan keberadaan Gojek membantu penjualannya. Omset penjualannya menurun hingga 20 persen saat pandemi.
Meskipun hingga kini belum masuk ekosistem OFD Gojek, ia mengatakan terbantu aplikasi Gojek saat pandemi. Banyak pelanggannya berbelanja lewat aplikasi GoShop dengan cukup mengetikkan "Ketupat Sayur Babeh Gue".
"Saya kan belum gabung sama Gojek, jadi di aplikasi adanya GoShop. GoShop itu jatuhnya belanja. Jadi dibelanjain dulu, ntar dikirim ke orangnya, baru bayar," kata Husein kepada RRI, Sabtu (15/10/2022).
"Di atas sepuluh sehari pesan lewat GoShop," katanya, menceritakan penjualannya di masa pandemi.
Gojek, yang kini bergabung dengan Tokopedia membentuk GoTo Group, menjelaskan pihaknya membantu para mitranya menghadapi tantangan selama pandemi. Sejumlah inovasi dan program diluncurkan Gojek guna membantu konsumen dan mitranya beradaptasi dengan kebiasaan baru.
"Beberapa di antaranya, kami menghadirkan fitur layanan tanpa kontak fisik atau contactless delivery di GoFood, GoShop, GoMart, GoSend, dan GoBox, serta sekat pelindung GoCar dan pelindung wajah tambahan untuk helm bagi mitra driver GoRide. Ada juga layanan roda empat GoCar Protect Plus yang dilengkapi sekat pelindung dan air purifier serta mitra driver yang telah divaksinasi dosis lengkap," kata Deputy Chief of Corporate Affairs Gojek Audrey Progastama Petriny kepada RRI, Senin (5/9/2022).
"Untuk mitra driver dan merchant, kami menghadirkan beberapa program, di antaranya program percepatan vaksinasi. Kami juga mengimpor 5 juta masker untuk mitra driver dan tenaga kesehatan, mendirikan 200 Posko Aman Gojek di 16 kota, diskon voucer GoRide, dan GoCar untuk nakes, dan voucer makan untuk mitra driver," kata Audrey.
Tak dipungkiri, pandemi telah merontokkan berbagai sendi perekonomian dan kesehatan masyarakat. Pada April 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut target pertumbuhan 5,3 persen di 2020 menjadi minus 2 persen.
Pertumbuhan minus tersebut merupakan dampak dari terjangan Covid-19. Nilai ekonomi yang hilang akibat pandemi sebesar Rp1.356 triliun atau setara 8,8 persen dari produk domestik bruto 2020.
Kasus positif Covid-19 nasional mencapai lebih dari 6 juta dengan kasus meninggal lebih dari 150 ribu orang. Ini merupakan data terkini Kementerian Kesehatan yang tercatat pada 26 Oktober 2022.
Hadirnya aplikasi seperti Gojek di tanah air membantu banyak pihak dapat mengatasi pandemi bersama-sama. Penjual, pembeli, pengantar, dan pengelola aplikasi bertransformasi menjadi sebuah ekosistem.
Ekosistem ini tidak hanya membantu membangkitkan ekonomi nasional, tapi juga membangkitkan kewaspadaan masyarakat terhadap penularan Covid-19. Menurut Audrey, Gojek sebagai karya anak bangsa, juga mengembangkan ekosistem tersebut hingga ke mancanegara.
"Pada Januari 2015, Gojek meluncurkan aplikasi sejalan dengan tumbuhnya permintaan. Pada Mei 2021, Gojek dan Tokopedia resmi bersinergi membentuk GoTo Group. Sekarang Gojek menjadi on-demand platform terdepan di Asia Tenggara, beroperasi di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Vietnam," kata Audrey kepada RRI.
Menurut Audrey, sejumlah layanan yang diluncurkan GoTo telah membentuk ekosistem unik yang membantu masyarakat menjalani hidup lebih menyenangkan. Ini termasuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mudah melalui layanan aplikasi Gojek, Tokopedia, dan GoPay.
"Dari awal, Gojek memang didirikan dengan prinsip memanfaatkan teknologi untuk mempermudah kehidupan sehari-hari masyarakat. Saat ini Gojek adalah bagian dari Grup GoTo, ekosistem digital terbesar di Indonesia, yang didukung oleh 2,6 juta mitra driver dan 15,1 juta merchant," katanya.
Menurut Stella, peneliti Tenggara Strategics, di balik kesulitan yang dialami selama pandemi, ada optimisme dan kesadaran yang terbangun. Ia mengatakan pandemi telah mengajarkan banyak orang betapa pentingnya digitalisasi.
"Di saat kita gak bisa ke mana-mana, kan kontak fisik terbatas, mau gak mau semua itu dilakukan online. Dengan adanya digitalisasi ini membuka akses pasar bagi para UMKM jadi luas. Mereka bisa menggapai konsumen dari mana pun," kata Stella.
"Kemarin itu kan banyak dari Shopee, maupun Grab, maupun GoTo, mereka kencang sekali bekerja sama dengan pemerintah juga untuk meningkatkan digitalisasi dari UMKM. Jadi saya melihat itu sebagai sesuatu yang positif," katanya.
"Jadi pemerintah dan private sector bekerja sama untuk meningkatkan digitalisasi masyarakat, terutama UMKM, untuk pemulihan perekonomian dari Covid-19. Dari situ sih saya melihat dampaknya positif, pemain-pemain digital ekonomi ini," ujar Stella lagi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....