Keunikan Wisata Rembesan Minyak Geosite Kedung Lantung Bojonegoro

  • 06 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Tuban

‎RRI.CO.ID, Bojonegoro - Kabupaten Bojonegoro menyimpan salah satu warisan alam yang unik dan langka, yakni Geosite (G-05) Kedung Lantung. Destinasi ini menyuguhkan fenomena menarik berupa rembesan minyak bumi cair yang muncul secara alami di aliran Sungai Borik, Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.

‎Secara geografis, lokasi ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Bojonegoro. Perjalanan menuju ke sana membutuhkan waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam melalui rute jalanan yang berkelok. Sesampainya di titik terdekat, pengunjung perlu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sedikit untuk mencapai kawasan yang masih terjaga keasriannya.

‎‎Di pintu masuk, telah tersedia papan informasi sejarah lengkap dengan sejumlah papan peringatan bagi pengunjung. Ditinjau dari aspek geologis, geosite ini berada di kawasan Zona Kendeng. Proses pengendapan laut dalam di Zona Kendeng terjadi secara bersamaan dengan pengendapan laut dangkal di Zona Rembang. Aktivitas tektonik pada masa lampau memicu terbentuknya jaringan rekahan pada batuan yang kemudian berfungsi sebagai jalur alami rembesan minyak bumi (oil seepage).

‎Minyak dari dalam reservoir di sekitarnya meresap secara vertikal ke atas melalui rekahan tersebut, terdorong oleh gaya angkat karena massa jenis minyak bumi yang lebih ringan daripada air. Proses alamiah inilah yang membuat minyak bumi akhirnya muncul ke permukaan dan bisa disaksikan secara langsung di Kedung Lantung.

‎Ketika tiba di lokasi, pengunjung harus menuruni jalur sedikit untuk melihat fenomena rembesan minyak tersebut dari jarak dekat. Uniknya, rembesan minyak ini memantulkan spektrum warna menyerupai pelangi akibat proses interferensi cahaya.

‎‎Secara kultural, fenomena ini telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan penerangan tradisional, yang oleh penduduk lokal disebut sebagai Lintung. Keberadaan rembesan minyak bumi di Kedung Lantung ini seolah memiliki ikatan geografis dengan destinasi populer lainnya di Bojonegoro.

‎‎Lokasinya kerap disandingkan dengan Geosite Kayangan Api yang berjarak sekitar 35 kilometer. Perbedaannya terletak pada jenis material yang keluar ke permukaan, jika Kedung Lantung menghasilkan rembesan minyak bumi cair, maka Kayangan Api merupakan titik rembesan gas bumi yang menyala abadi di atas tanah kering.

‎Menjaga kelestarian lapisan sejarah seperti ini memerlukan komitmen yang besar. Berbagai warisan alam yang tersebar di Kabupaten Bojonegoro pada dasarnya saling terhubung dan membentuk narasi besar mengenai sistem perminyakan bumi yang kaya akan makna ilmiah sekaligus nilai budaya.

‎Selain pesona alam dan budayanya, perjalanan wisata edukasi ini turut diperkaya dengan potensi produk lokal setempat. Berdasarkan hasil perbincangan singkat dengan salah satu anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, Nabila, diketahui bahwa kondisi struktur tanah dan iklim di Desa Drenges sangat mendukung sektor pertanian jagung dan singkong.

‎"Karena hasil pertanian di sini mayoritas jagung dan singkong kamu olah menjadi Marning dan Balung Kuwuk. Dan ini menjadi produk asli dari Desa Drenges," ujarnya, Kamis 6 Agustus 2026.

‎Keseluruhan potensi ini menegaskan bahwa rangkaian kekayaan warisan alam Bojonegoro perlu terus dirawat melalui penguatan sektor pariwisata. Dengan demikian, keunggulan dan nilai sejarah daerah dapat terus terjaga dan dinikmati oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....