Bima Sakti Prihatin Insiden Tendangan Kungfu Liga 4
- 08 Jan 2026 19:46 WIB
- Tuban
KBRN, Lamongan: Pelatih Persela Lamongan, Bima Sakti, berikan komentar terkait maraknya insiden kekerasan dalam kompetisi Liga 4 yang belakangan menyita perhatian publik sepak bola nasional. Ia menilai aksi tendangan brutal yang terjadi dalam dua laga berbeda tersebut sangat mencoreng nilai sportivitas sepak bola Indonesia.
Dua insiden keras itu terjadi secara beruntun. Pertama, aksi tendangan berbahaya yang dilakukan pemain Putra Jaya Pasuruan saat menghadapi Perseta Tulungagung pada babak 32 besar Liga 4 Jawa Timur di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Senin (5/1/2026). Sehari berselang, insiden serupa kembali terjadi di Liga 4 Yogyakarta, saat pemain KAFI Jogja FC melawan UAD FC di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Selasa (6/1/2026).
“Ini sangat memprihatinkan ya. Sepak bola kita harus kita jaga sama-sama. Dengan kejadian ini, saya pikir sangat mencoreng sepak bola kita,” ujar Bima Sakti, Kamis (8/1/2026).
Sebagai mantan pemain tim nasional yang kini berkarier sebagai pelatih, Bima Sakti mengaku kecewa dengan perilaku pemain yang dinilainya jauh dari nilai-nilai fair play. Menurutnya, rasa hormat terhadap lawan, wasit, serta seluruh insan sepak bola harus menjadi prinsip utama dalam pertandingan.
“Kita harus saling jaga, saling melindungi. Menang memang menjadi target utama, tapi kemenangan juga harus dicapai dengan cara yang fair dan sportivitas yang tinggi,” tuturnya.
Mantan pelatih timnas kelompok umur tersebut menuturkan pentingnya pembinaan karakter dalam sepak bola usia muda. Ia menyebut, pembinaan yang terstruktur dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk orang tua, menjadi kunci untuk melahirkan atlet yang bermental kuat dan berkarakter baik.
“Yang pasti harus semua stakeholder saling support, dari manajemen, pelatih, orang tua juga. Selain kemenangan, ada hal lain yang lebih penting, yaitu bagaimana membina mereka. Apalagi Liga 4 ini menjadi ajang untuk menambah jam terbang dan pengalaman bermain,” katanya.
Bima Sakti juga berpesan kepada para pemain muda agar memanfaatkan kompetisi amatir seperti Liga 4 sebagai sarana belajar disiplin, sportivitas, dan rasa hormat, bukan sekadar ajang mengejar hasil.
“Kalau mereka punya mental yang nggak baik, sering bermain kasar atau mencederai lawan, nanti ketika naik ke level berikutnya, wasitnya sudah profesional, apalagi dengan teknologi VAR, itu akan sangat berbahaya,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....