Harga Daging Naik. Pedagang Lamongan Pilih Tutup sementara
- 21 Jul 2026 13:05 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Sejumlah pedagang daging sapi di Kabupaten Lamongan memilih menghentikan aktivitas berjualan sebagai bentuk respon atas naiknya harga daging sapi yang dinilai semakin memberatkan pedagang maupun konsumen. Akibat aksi tersebut, suasana di sejumlah pasar tradisional di Kecamatan Lamongan, seperti Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made, tampak berbeda dari biasanya. Kios-kios daging sapi terlihat tutup tanpa aktivitas jual beli.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Sidoharjo, Bagus Budi Raharjo mengatakan keputusan libur diambil setelah para pedagang menerima informasi adanya kenaikan harga dari pedagang sapi hidup dan jagal sapi. "Kami mendapat informasi dari pedagang sapi hidup dan sapi potongan bahwa akan ada kenaikan harga lagi. Ini merupakan kenaikan yang kelima sepanjang tahun 2026," ujarnya, Selasa 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan, harga daging sapi bagian sampil kategori medium yang pada Januari 2026 masih berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram, kini telah naik menjadi sekitar Rp130 ribu per kilogram. Menurut Bagus, kondisi tersebut membuat para pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka harus menyesuaikan harga jual mengikuti kenaikan biaya pembelian, namun di sisi lain daya beli masyarakat justru menurun.
"Paguyuban pedagang daging berkumpul untuk mencari solusi. Karena banyak pelanggan mengeluhkan harga yang terus naik, kami sepakat libur selama tiga hari agar lebih tenang secara psikologis. Bulan Juni kemarin harga juga baru naik," katanya.
Para pedagang berharap harga sapi hidup kembali stabil sehingga pasokan dan harga daging di tingkat konsumen dapat kembali normal. Keputusan para pedagang untuk menghentikan sementara aktivitas jual beli diharapkan menjadi perhatian seluruh pihak terkait, mengingat stabilitas harga daging sapi berpengaruh terhadap daya beli masyarakat sekaligus keberlangsungan usaha para pedagang di pasar tradisional.
Kenaikan harga daging sapi juga dirasakan pelaku usaha kuliner, khususnya penjual bakso yang menjadikan daging sapi sebagai bahan baku utama. Pemilik Bakso Unggulan Cak Suin di depan SMP Negeri 1 Lamongan, Khoirul, mengaku terus memantau perkembangan harga daging yang naik.
"Kemarin sesudah hari raya harga daging Rp125 ribu per kilogram, lalu naik lagi menjadi Rp130 ribu. Sampai kemarin harganya masih Rp130 ribu," kata Khoirul.
Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat para penjual bakso menghadapi dilema. Jika harga bakso dinaikkan, dikhawatirkan pelanggan akan berkurang. Namun apabila harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha terus tergerus karena biaya produksi semakin besar.
Selain harga daging, sejumlah kebutuhan lain seperti tepung juga mengalami kenaikan, sementara pelaku usaha tetap harus memenuhi biaya operasional dan membayar upah pekerja. "Otomatis pedagang-pedagang, terutama warung seperti kami juga bingung. Mau menaikkan harga jual takut pelanggan keberatan, tapi kalau tidak dinaikkan juga bingung mengatur keuangan," ujarnya.
Terkait liburnya pedagang daging sapi, Khoirul mengaku telah mengantisipasi dengan menyiapkan stok daging untuk kebutuhan usahanya. Namun ia mengaku belum mengetahui bagaimana perkembangan harga setelah para pedagang kembali berjualan.
"Kami sudah mengamankan stok untuk tiga hari. Setelah itu belum tahu nanti harganya jadi berapa. Kami menunggu informasi dari penjual daging. Harapan kami semoga harga tidak terus naik supaya pedagang kecil bisa tetap bertahan," katanya.
Baik pedagang daging maupun pelaku usaha kuliner berharap harga sapi hidup kembali stabil sehingga harga daging di pasaran dapat berangsur normal. Mereka menilai stabilitas harga sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus keberlangsungan usaha kecil yang bergantung pada bahan baku daging sapi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....