Unisla Dampingi Difabel Tlogoagung, Dorong Kemandirian Ekonomi
- 14 Jul 2026 14:26 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Universitas Islam Lamongan terus memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat rentan melalui Program Hibah Pemberdayaan Desa Binaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) Tahun Anggaran 2026. Program ini difokuskan untuk mendukung penyandang disabilitas di Desa Tlogoagung, Kecamatan Kembangbahu, agar lebih mandiri secara ekonomi dan memperoleh akses pendidikan yang inklusif.
Program tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah dimulai sejak Desa Tlogoagung dideklarasikan sebagai rintisan desa inklusi pada 2021. Status desa itu kemudian diperkuat sebagai Desa Binaan Unisla melalui Surat Keputusan Rektor pada 2023. Berdasarkan data, terdapat 97 penyandang disabilitas di Kecamatan Kembangbahu. Sebanyak 17 orang di antaranya merupakan warga Desa Tlogoagung.
Ketua Tim Pelaksana Program, Edy Susanto, mengatakan pendampingan tahun ini berfokus pada penguatan sektor ekonomi melalui teknologi peternakan dan penyediaan sarana pendidikan inklusif bagi anak usia dini. "Kami tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi membangun ekosistem yang berkelanjutan. Tahun pertama ini difokuskan pada penguasaan teknologi produksi, seperti penguatan genetik kambing dan penerapan kandang portabel ayam petelur. Tujuannya agar kelompok difabel memiliki pendapatan yang stabil dan mandiri," ujar Edy Susanto, Selasa 14 Juli 2026.
Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah mendampingi 25 penyandang disabilitas. Sebanyak 20 peserta mengikuti program peternakan dengan bantuan 13 ekor kambing betina, satu ekor kambing pejantan, serta 140 ekor ayam petelur. Mereka juga menerima tujuh unit kandang baterai portabel, pakan konsentrat, dan obat-obatan.
Selain itu, tiga peserta lainnya mendapat pendampingan usaha warung melalui penyediaan unit showcase dan diversifikasi produk kebutuhan harian. Di bidang pendidikan, Unisla mendirikan Satuan PAUD Sejenis (SPS) At Taqwa sebagai sekolah inklusi di tingkat desa. Saat ini sekolah tersebut menampung 10 anak, termasuk anak-anak penyandang disabilitas usia di bawah tiga tahun.
Menurut Edy, pendidikan inklusif sejak usia dini menjadi langkah penting untuk memastikan anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa diskriminasi. "SPS At Taqwa telah dilengkapi Smart TV, active speaker, dan alat peraga edukatif sehingga diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif bagi semua anak," katanya.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Tlogoagung. Kepala Desa Tlogoagung, Edianto, menilai kolaborasi dengan Unisla membantu meningkatkan kesejahteraan kelompok difabel di desanya. "Kami mengucapkan terima kasih kepada Unisla dan Kemendikti Saintek. Program ini membuka peluang bagi warga difabel untuk lebih berdaya secara ekonomi. Pemerintah desa siap mengawal keberlanjutan program ini dengan memasukkan penguatan desa inklusi dalam perencanaan anggaran desa," tuturnya.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program setelah masa hibah berakhir, Unisla juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Lamongan. Di antaranya Dinas Peternakan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), serta Dinas Pendidikan.
Melalui kolaborasi tersebut, model pemberdayaan desa inklusi yang diterapkan di Tlogoagung diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Lamongan, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan hidup mandiri dan sejahtera.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....