Kreatif, Warga Lamongan Sulap Atap Rumah Jadi Kebun Melon

  • 23 Jun 2026 13:24 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan - Di atas rooftop seluas sekitar 13 x 8 meter persegi, disulap Iskandar warga Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan menjadi sumber penghasilan dengan mengembangkan budidaya melon dengan sistem pertanian urban (urban farming). Lahan yang sebelumnya kosong kini dipenuhi tanaman melon yang tumbuh subur dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarganya.

“Kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan belum ada rencana membangun rumah ke atas. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon,” kata Iskandar, Selasa 23 Juni 2026.

Untuk menunjang budidaya di lahan terbatas, Iskandar menerapkan teknologi hidroponik dengan sistem fertigasi tetes atau drip irrigation. Melalui metode tersebut, air dan nutrisi dialirkan langsung ke akar tanaman menggunakan selang khusus sehingga kebutuhan tanaman dapat terpenuhi secara lebih efisien dan terukur.

Menariknya, kemampuan merancang dan mengoperasikan sistem irigasi modern tersebut diperoleh secara mandiri. Iskandar mengaku mempelajari berbagai teknik budidaya dan instalasi hidroponik melalui platform digital. “Sistem penyiramannya menggunakan selang drip dan fertigasi tetes. Teknologi serta cara implementasinya saya pelajari sendiri dari YouTube,” ujarnya.

Namun, bertanam melon di atas atap rumah bukan tanpa tantangan. Kondisi lahan terbuka membuat tanaman sangat dipengaruhi cuaca, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi. Pengalaman itu dirasakan Iskandar pada musim tanam pertamanya ketika membudidayakan varietas melon premium.

Meski hasil panen belum maksimal akibat faktor cuaca dan serangan hama, usaha tersebut tetap menghasilkan omset sekitar Rp3 juta. Pengalaman itu kemudian menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan produktivitas pada musim berikutnya.

Pada musim tanam kedua, Iskandar memilih beralih ke varietas melon lokal seperti Gracia, New Cheria, dan Nobel. Menurutnya, jenis melon tersebut lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan rooftop yang terbuka serta memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar 60 hingga 65 hari.

“Kemarin saat kondisi optimal kami bisa panen hingga 2,5 kuintal. Tetapi kalau musim hujan, kondisi rooftop memang kurang bersahabat, terutama untuk melon premium. Tantangan terbesar ada pada curah hujan yang tinggi,” jelasnya.

Perubahan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Dengan memilih varietas yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan, Iskandar optimistis omset panen kali ini dapat meningkat hingga mencapai Rp7 juta.

Bagi Iskandar, aktivitas berkebun di atas rumah tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjaga kebugaran tubuh sekaligus mengisi waktu dengan aktivitas produktif menjelang masa pensiun. “Sambil menanam melon sekaligus olahraga. Kalau pagi hari suasananya juga sangat nyaman dan udaranya segar,” tuturnya.

Keberhasilan yang diraih melalui kebun rooftop bernama Perdana Farm itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan lahan terbatas dengan pendekatan pertanian modern.

Menurut Iskandar, urban farming memiliki peluang besar untuk dikembangkan di kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Dengan inovasi dan kemauan belajar, ruang sempit sekalipun dapat diubah menjadi lahan produktif yang bernilai ekonomi.

“Harapannya ini bisa menginspirasi yang lain, terutama anak-anak muda agar tetap bersemangat berinovasi dan memanfaatkan lahan seadanya untuk menanam,” katanya mengakhiri .

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....