Lansia Sebatang Kara di Bojonegoro Akhirnya Tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha

  • 12 Jun 2026 12:31 WIB
  •  Tuban

‎RRI.CO.ID, Bojonegoro – Suasana haru menyelimuti keberangkatan Musrikah (70), warga Desa Ketileng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, menuju Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Magetan, milik Dinsos Provinsi Jawa Timur. Di usia senjanya, perempuan lanjut usia ini akhirnya mendapatkan kepastian tempat bernaung setelah harus berjuang hidup sebatang kara.

‎Kisah hidup Musrikah memang cukup pilu. Setelah puluhan tahun merantau di Surabaya, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Bojonegoro. Namun, kondisi fisiknya yang kian renta tidak dibarengi dengan keberadaan keluarga.

‎‎Suami, anak, hingga saudara kandungnya diketahui telah tiada. Selama ini, ia pun terpaksa menumpang di kediaman warga sekitar karena tidak memiliki rumah sendiri.

‎Kepedulian warga Desa Ketileng dan Pemerintah Desa setempat menjadi penyelamat bagi Musrikah. Mereka bergotong royong memenuhi kebutuhan sehari-hari sang nenek hingga akhirnya mengoordinasikan kondisinya kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro.

‎Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Agus Susetyo Heriyanto, memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat dan Pemerintah Desa Ketileng. Menurutnya, aksi tersebut membuktikan bahwa solidaritas dan kepedulian sosial masih terjaga erat di tengah masyarakat.

‎‎"Kisah Mbah Musrikah mengajarkan kepada kita bahwa kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat," ujar Agus, Jumat 12 Juni 2026. Dalam proses evakuasi, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Bojonegoro, Nafiatin Ni'mah, turut mendampingi langsung.

‎‎Ia mengungkapkan bahwa langkah ini diambil untuk menjamin kesejahteraan dan pendampingan berkelanjutan bagi Musrikah. "Kami ingin memastikan Mbah Musrikah mendapatkan perlindungan dan perawatan yang layak. Beliau membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan," jelas Nafiatin.

‎‎Musrikah sendiri tak kuasa menahan air mata saat harus berpamitan dengan para tetangga yang selama ini telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Dengan suara terbata-bata, ia mengungkapkan rasa syukur dan keikhlasannya untuk pindah ke panti sosial agar masa tuanya lebih terawat.

‎‎"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Suami dan anak sudah tiada, saya sempat bingung siapa yang akan merawat saya saat semakin tua. Namun, Tuhan tidak tidur. Terima kasih banyak kepada Pemdes, tetangga di Ketileng, dan Dinas Sosial yang sudah membantu saya. Saya ikhlas dan senang bisa dirawat di panti hingga akhir hayat nanti," ujar Musrikah dengan penuh haru.

‎Proses pemindahan ini menjadi cerminan sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial kepada lansia yang membutuhkan. Sekaligus memastikan mereka mendapatkan penghujung usia dengan pendampingan yang tepat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....