Dolar Melambung, Pengusaha Besi Baja Lamongan Hadapi Tekanan
- 08 Jun 2026 10:58 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menembus angka Rp18.000 per dolar mulai memberikan tekanan serius bagi sektor industri nasional, terutama industri yang bergantung pada bahan baku impor seperti besi dan baja. Ketergantungan Indonesia terhadap impor baja dinilai masih cukup tinggi karena kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar nasional.
Kondisi tersebut membuat gejolak nilai tukar mata uang asing berdampak langsung terhadap biaya produksi dan harga jual di pasar. Pengusaha importir besi sekaligus Direktur PT Duta Merpati Indonesia, Pradita Aditya, mengatakan sebagian besar kebutuhan baja nasional masih dipenuhi melalui impor, dengan pasokan terbesar berasal dari Tiongkok.
"Kebutuhan baja nasional kita masih cukup besar dari impor karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Karena itu Kemenperin dan Kemendag membuka ruang impor, dan sekitar 90 persen pasokan berasal dari China," katanya, Senin 8 Juni 2026
Menurutnya, meskipun produk didatangkan dari Tiongkok, transaksi perdagangan internasional masih menggunakan dolar AS sebagai acuan utama. Akibatnya, setiap kenaikan nilai dolar secara langsung meningkatkan biaya pengadaan barang.
"Di China sendiri transaksi ekspor masih menggunakan dolar sebagai benchmark. Ketika dolar naik hingga tembus Rp18.000 lebih, tentu dampaknya sangat besar terhadap biaya impor," ujarnya.
Pradita menjelaskan, lonjakan kurs dolar telah memicu kenaikan harga berbagai produk baja di pasaran. Salah satunya adalah produk coil atau besi gulungan yang banyak digunakan dalam sektor konstruksi dan manufaktur.
"Harga coil yang sebelumnya berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp18.000. Bahkan ada yang menyentuh Rp19.000 hingga Rp20.000 lebih. Kenaikan ini terjadi secara sistematis dan cukup signifikan," tuturnya.
Kenaikan harga bahan baku tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada berbagai sektor industri hilir yang menggunakan besi dan baja sebagai komponen utama produksi. Selain meningkatkan biaya operasional perusahaan, kondisi ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Meski demikian, Pradita berharap permintaan pasar tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi nasional dapat terus berjalan di tengah tekanan nilai tukar dan potensi inflasi. "Kami berharap permintaan pasar tetap baik dan tidak mengalami penurunan. Dengan begitu perekonomian tetap bisa bergerak meskipun ada tekanan dari kenaikan dolar dan harga bahan baku," ujarnya.
Pelaku usaha kini berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat kapasitas industri baja nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap impor dan meningkatkan ketahanan sektor industri dalam menghadapi gejolak ekonomi global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....