DLH Lamongan Masifkan Kerja Bakti Atasi Persoalan Sampah Menumpuk
- 07 Jun 2026 06:37 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memperkuat sinergi lintas sektor untuk mengatasi persoalan sampah yang saat ini melihat volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Lamongan mencapai sekitar 100 ton per hari. Sebagai upaya menekan timbulan sampah, Pemkab Lamongan mengerahkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, hingga pemerintah desa untuk melaksanakan kerja bakti massal atau korve di lingkungan masing-masing.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga. Kerja bakti juga difokuskan pada penataan kawasan TPA agar lebih bersih dan bebas dari ceceran sampah.
"Mengelola sampah ini tidak hanya tugas Dinas Lingkungan Hidup saja, tetapi harus dimulai dari hulu, yaitu dari sampah rumah tangga. Harus ada pemilahan antara sampah organik dan anorganik sehingga yang masuk ke TPA benar-benar hanya sampah residu," ujarnya, Minggu 7 Juni 2026.
Menurutnya, pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi beban TPA sekaligus mendukung upaya pengendalian perubahan iklim. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali melalui sistem pengelolaan berbasis Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
DLH Lamongan juga mendorong optimalisasi Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS 3R) dan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang telah tersedia di sejumlah kecamatan. Melalui fasilitas tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Selain penanganan teknis, pemerintah daerah terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai program lingkungan. Di antaranya melalui pelaksanaan Lamongan Green and Clean (LGC) serta program Adiwiyata yang menyasar lingkungan sekolah.
"Lomba Green and Clean hingga Adiwiyata merupakan bagian dari edukasi jangka panjang. Program ini menjadi stimulan agar masyarakat memiliki semangat dan kompetisi positif dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan asri," katanya.
Sementara itu, untuk mengatasi kondisi TPA Tambakboyo yang saat ini mengalami kelebihan kapasitas (overload), DLH menerapkan sistem sanitary landfill sementara dengan menutup timbunan sampah menggunakan lapisan tanah penutup. Di sisi lain, Pemkab Lamongan juga menaruh harapan besar pada pembangunan TPA Dadapan di Kecamatan Solokuro yang diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi beban TPA Tambakboyo.
Erwin menjelaskan, proyek pembangunan TPA Dadapan saat ini masih berada dalam tahap lelang di Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pemerintah daerah berharap proses tersebut dapat segera rampung sehingga fasilitas baru itu dapat beroperasi pada tahun mendatang.
"Informasi terakhir yang kami terima, proses lelang masih berjalan. Kami berharap pembangunan TPA Dadapan dapat selesai pada akhir tahun ini sehingga tahun depan sudah bisa dioperasikan untuk membantu mengurai persoalan overload di TPA Tambakboyo," tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Lamongan menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....