Wamentan Beri Motivasi Kepada Wisudawan Ponpes Sunan Drajat Lamongan
- 01 Jun 2026 06:15 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia (Wamentan RI), Sudaryono, memberikan motivasi dan semangat untuk para wisudawan dalam acara Haflah Akhirussanah Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Minggu 31 Mei 2026. Dalam sambutannya, ia membagikan kisah hidupnya yang inspiratif sekaligus memperkenalkan sebuah konsep penting yang ia sebut sebagai "Gerakan Menjemput Takdir".
Di hadapan ratusan santri dan wali murid, Sudaryono menegaskan bahwa masa depan adalah sebuah misteri yang penuh dengan kejutan. "Kita tidak pernah tahu di ujungnya itu apa, tidak mengerti. Saya tidak pernah membayangkan diri saya berdiri di hadapan saudara-saudara hari ini jadi Wakil Menteri dan ngasih ceramah. Dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, tidak pernah saya bayangkan," ujarnya.
Sudaryono mengingatkan para wisudawan agar tidak mengabaikan nasihat orang tua dan guru. Ia memahami bahwa anak muda sering kali acuh terhadap masa depan karena belum pernah merasakannya. Sebaliknya, orang dewasa sudah pernah melewati fase remaja dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan hidup.
Oleh karena itu, ia berpesan agar para lulusan selalu memberikan performa terbaik dalam setiap hal yang mereka lakukan guna menghindari penyesalan di kemudian hari. "Jangan sampai terjadi penyesalan yang besar di masa depan dan kerjakan semua hal dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin," katanya
Salah satu poin paling menarik dalam pidatonya adalah konsep Gerakan Menjemput Takdir. Sudaryono menjelaskan bahwa manusia memang tidak tahu akan dipertemukan dengan siapa dan menjadi apa di masa depan. Namun, mempersiapkan diri adalah kunci utama agar saat kesempatan emas itu datang, kita sudah siap.
Menutup motivasinya, Sudaryono membagikan latar belakang keluarganya yang sederhana. Ia mengungkapkan bahwa orang tuanya adalah seorang petani yang kesehariannya mencangkul di sawah dan bahkan tidak lulus Sekolah Dasar (SD).
Ia mengaku bahwa saat muda, ia tidak memiliki cita-cita yang tinggi. Satu-satunya motivasi terbesar kala itu hanyalah tekad agar hidupnya bisa berubah dan tidak perlu mencangkul di sawah seperti orang tuanya. "Apa kemudian yang saya lakukan? Kita lakukan segala sesuatu dengan serius," tuturnya,
Diharapkan dengan motivasi yang diberikan oleh Wamentan para wisudawan dapat menyerap ilmu yang telah diberikan uztad dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....