Bojonegoro Peringkat Kedua Nasional Serapan Pupuk Organik 2026
- 01 Mei 2026 18:52 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Bojonegoro – Kesadaran petani di Kabupaten Bojonegoro terhadap kelestarian lahan menempatkan wilayah ini di posisi kedua nasional dalam penyerapan pupuk organik (Petroganik) tahun 2026. Pencapaian ini bukti transformasi pola pikir petani lokal dari ketergantungan pada pupuk kimia menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, mengaku bangga atas konsistensi para petani dalam menjaga kualitas ekosistem tanah. Menurutnya, capaian di level nasional ini adalah bukti nyata bahwa edukasi pertanian berkelanjutan telah membuahkan hasil.
"Peringkat kedua se-Indonesia ini merupakan indikator kuat bahwa petani kita telah menyadari manfaat jangka panjang pupuk organik. Penggunaan Petroganik bukan sekadar mengejar angka produksi, melainkan investasi untuk menjaga kesehatan tanah bagi generasi mendatang," tegas Wabup, Jumat 1 Mei 2026.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, pada tahun 2026 ini kabupaten mendapatkan alokasi bantuan pupuk organik sebesar 13.948 ton. Angka ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian di seluruh wilayah Bojonegoro secara merata.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Mitra Himpunan Produksi Pupuk Organik (HIMPO), Wahyu Aryo, mengonfirmasi bahwa tren positif serapan pupuk di Bojonegoro telah terlihat sejak dua tahun terakhir. "Kondisi inilah yang mendorong kami untuk terus memprioritaskan dukungan distribusi di Bojonegoro," ucapnya.
Terkait jaminan ketersediaan, perwakilan PT Pupuk Indonesia, Wahyu Dimas Adi Prakoso, memastikan bahwa pasokan pupuk untuk periode April hingga Mei 2026 berada pada posisi aman. Ia menjamin mekanisme distribusi kini jauh lebih akurat berkat verifikasi ketat dari petugas Pemkab setempat.
"Dari sekitar 300 Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS), sebanyak 82 persen telah mengantongi stok di atas 1 ton. Petani tidak perlu merasa cemas akan ketersediaan di lapangan," jelas.
Meski unggul dalam aspek kesadaran lingkungan, sektor pertanian Bojonegoro kini menghadapi tantangan serius pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Data menunjukkan penurunan jumlah petani dari 366.484 orang pada 2013 menjadi 333.951 orang pada 2023, dengan mayoritas pelaku tani saat ini berusia di atas 60 tahun.
Menanggapi fenomena penuaan usia petani ini, Pemkab Bojonegoro mulai menggenjot program mekanisasi pertanian. Penggunaan teknologi modern, seperti alat tanam padi (transplanter), terus didorong guna meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menarik minat generasi muda di sektor agraris.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....