Masyarakat Tuban Rayakan Valentine dengan Terapi Mental

  • 14 Feb 2026 20:13 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Tuban - Di tengah perayaan Valentine yang biasanya dipenuhi cokelat, bunga, dan makan malam romantis, masyarakat Tuban memilih cara yang berbeda untuk merayakan hari kasih sayang. Alih-alih sekadar merayakan cinta bersama pasangan, sejumlah warga justru berkumpul dalam sebuah sesi terapi mental health untuk berdamai dengan diri sendiri.

Di sebuah ruangan yang terasa hangat dan aman, para peserta tidak dituntut untuk terlihat bahagia, tidak pula keharusan bercerita. Yang ada hanyalah kehadiran, penerimaan, dan rasa saling menghargai. Inilah suasana yang dihadirkan oleh Srawung Sasmita, sebuah ruang perjumpaan yang menempatkan kasih sayang dalam makna yang lebih luas.

Founder Srawung Sasmita, Ratna Ernawati, menuturkan bahwa kasih sayang sejatinya adalah kebutuhan dasar manusia. Bukan hanya tentang memberi atau menerima cinta dari pasangan, tetapi juga tentang relasi dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan Sang Pencipta.

“Manusia hidup pasti membutuhkan rasa sayang. Baik saat memberi, maupun saat menerima. Bukan hanya kepada orang-orang terdekat, tetapi juga kepada alam dan Tuhan,” ujarnya dengan suara tenang, Kamis, 14 Januari 2026.

Menurutnya, ruang ini hadir untuk menumbuhkan rasa. Di tempat ini, kasih sayang tidak dibatasi, melainkan dapat tumbuh kepada siapapun. “Harapannya, ruang ini bisa menjadi tempat berbagi dan menumbuhkan rasa sayang. Tidak hanya kepada pasangan, orang tua, atau saudara, tapi juga kepada siapa pun,” lanjutnya.

Valentine, bagi sebagian orang, justru menjadi momen yang menyadarkan bahwa tidak semua hati sedang baik-baik saja. Banyak yang menutupi kegelisahan dengan senyum, atau menyangkal luka batin yang belum sembuh.

Namun, dalam ruang yang terbatas dan aman, pengakuan itu tak perlu diucapkan dengan nada lantang. “Ketika kita berkumpul dalam ruang yang aman dan privasinya terjaga, rasa kasih sayang itu menyebar. Kita tidak harus saling mengenal dekat. Cukup hadir, dan vibrasinya terasa,” ucap Ratna.

Efeknya pun sederhana namun bermakna. Para peserta pulang dengan perasaan lebih ringan, bukan karena merasa diobati, apalagi dihakimi, melainkan karena diterima apa adanya. Di hari kasih sayang ini, Tuban menunjukkan bahwa cinta tak selalu berbentuk romansa.

Kadang, ia hadir sebagai keberanian untuk jujur dan mencoba menerima apapun yang ada pada diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....