Finalis Lomba Bertutur Bojonegaran Warnai Semangat Literasi Pelajar

  • 31 Okt 2025 15:59 WIB
  •  Tuban

KBRN, Bojonegoro: Suasana Pendopo Malowopati Bojonegoro pada Kamis (30/10/2025) tampak semarak. Sebanyak 10 finalis dari berbagai SMP dan MTs di Kabupaten Bojonegoro tampil penuh semangat dalam ajang Lomba Bertutur Kearifan Lokal Dialek Jawa Bojonegaran dengan tema “Cerita Samin”.

Para peserta membawakan kisah-kisah sarat pesan moral tentang kejujuran, kesederhanaan, dan keteguhan, disaksikan oleh para guru pendamping serta teman-teman yang memberikan dukungan meriah.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro ini merupakan bentuk komitmen dalam menumbuhkan budaya literasi sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Erick Firdaus, menyampaikan bahwa lomba tersebut menjadi media penting dalam memperkuat minat baca dan kesadaran budaya di kalangan pelajar.

“Perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga pusat pengembangan literasi yang melatih anak-anak untuk berbicara, memahami, dan mengelola informasi dengan bijak,” ujarnya.

Erick menambahkan bahwa melalui lomba ini, para peserta diajak untuk lebih mengenal dan mencintai bahasa serta budaya daerahnya sendiri. “Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin membangun rasa bangga terhadap bahasa Bojonegaran dan mengajak generasi muda untuk terus menggali potensi literasi sebagai wujud pelestarian budaya lokal,” katanya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bojonegoro, Djoko Lukito, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa penggunaan dialek Bojonegaran merupakan simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Bojonegoro.

“Dialek Bojonegaran punya keunikan tersendiri dan patut kita lestarikan. Anak-anak jangan malu menggunakan bahasa daerahnya karena di situlah karakter dan jati diri itu tumbuh,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa kemampuan bertutur bukan sekadar soal berbicara di depan umum. “Bertutur yang baik lahir dari kebiasaan membaca. Semakin banyak membaca, semakin luas pula wawasan untuk menyampaikan cerita dengan menarik. Kegiatan ini luar biasa karena menumbuhkan literasi sekaligus rasa cinta terhadap budaya sendiri,” ujarnya.

Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran yang menggabungkan literasi, kearifan lokal, dan kebanggaan daerah. Melalui dialek khas Bojonegoro, para pelajar membuktikan bahwa bahasa daerah adalah identitas yang harus dijaga dan diwariskan ke generasi selanjutnya.

"Melalui lomba ini, peserta tidak hanya mengasah kemampuan bertutur, tetapi juga memperkuat kecintaan terhadap bahasa dan budaya lokal," katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....