Bakesbangpol Lamongan Sosialisasikan Peran Pelajar Cegah Radikalisme

  • 03 Jun 2025 14:24 WIB
  •  Tuban

KBRN, Lamongan: Perkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman radikalisme dan kekerasan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan Sosialisasi Pencegahan Konflik bertema “Peran Pelajar sebagai Agen Perdamaian dalam Mewujudkan Generasi Emas”, di Ruang Gajah Mada, Lantai 7 Gedung Pemkab Lamongan.

Kegiatan ini diikuti oleh 80 pelajar tingkat SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Lamongan, serta dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pejabat penting, termasuk perwakilan kepolisian, tokoh masyarakat, dan mitra strategis pencegahan radikalisme.

Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Sapari menjelaskan pentingnya membentuk generasi muda yang tangguh secara ideologis dan sosial. Sambutan Sekretaris Daerah Lamongan dibacakan oleh Sujarwo, yang menggarisbawahi tantangan era globalisasi yang membutuhkan pemuda cerdas dalam menyaring informasi dan menolak paham kekerasan.

"Pelajar harus menjadi pelopor perdamaian dan agen perubahan. Inilah investasi kita menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Kemudian ia menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pencegahan dini konflik serta penguatan karakter pelajar sebagai agen perdamaian.

"Generasi muda adalah aset utama bangsa. Ini adalah bentuk nyata investasi jangka panjang dalam membentuk SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.

IPTU Edi Purwanto dari Densus 88 menjelaskan bahwa kelompok teroris sering menargetkan remaja yang masih labil secara psikologis. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan peran keluarga dalam membentengi generasi muda dari paparan ideologi ekstrem.

Dalam paparannya, IPTU Sukarman dari Polres Lamongan mengajak pelajar untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar dan menolak segala bentuk kekerasan. Ia juga menekankan pentingnya kecakapan digital dan literasi informasi dalam melawan hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

Kegiatan ini juga memperkenalkan peran Duta Damai BNPT Jawa Timur, yang aktif dalam kampanye kontra-radikalisme berbasis digital di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Arif Setyawan, mantan napiter, memaparkan kisah perjalanannya yang sempat terjerumus ke dalam jaringan terorisme. Ia menekankan bahwa kekosongan makna hidup dan ketidaktahuan menjadi pintu masuk utama paham radikal. Kini, ia aktif menyuarakan pesan damai dan mengedukasi masyarakat agar tidak mengalami pengalaman serupa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....