Gerakan Sadar Mata Dorong Anak Indonesia Tumbuh dengan Penglihatan Sehat
- 12 Agt 2026 17:25 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Penglihatan yang jelas menjadi salah satu modal penting bagi anak untuk mengikuti pelajaran, membaca, bermain, hingga mengejar cita-cita. Namun, meningkatnya kasus gangguan refraksi atau mata minus (myopia) pada anak menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi proses belajar dan kualitas hidup mereka.
Berdasarkan studi yang dirujuk Kementerian Kesehatan, prevalensi gangguan refraksi pada anak di Indonesia meningkat dari 26 persen pada 2013 menjadi 40 persen pada 2023. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk tidak hanya fokus pada penanganan mata minus, tetapi juga berupaya mengendalikan progresivitasnya sejak dini.
Kepedulian tersebut diwujudkan melalui gerakan sadar mata “Vision Fest Myopia Care – Natamata”. Kegiatan yang digelar di Hotel Aston Gresik, Rabu 12 Agustus 2026 ini mempertemukan 15 sekolah dari Kabupaten Gresik dan Lamongan yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan mata anak.
Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli mengatakan, persoalan utama myopia pada anak bukan hanya menyangkut banyaknya kasus, tetapi bagaimana pertumbuhan mata minus dapat dikendalikan agar tidak semakin berat. “Dari peningkatan kasus mata ini, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya jumlah kasusnya, namun bagaimana kita mampu menekan progresivitas atau pertumbuhan minus pada anak. Penglihatan yang optimal merupakan fondasi penting bagi anak untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi,” ujarnya.
Sebanyak 15 sekolah yang terlibat dalam gerakan tersebut terdiri dari sembilan sekolah di Gresik dan enam sekolah di Lamongan. Dari Gresik di antaranya Rumah Qur’an Al Ummah, SD IT Al Ibrah, SD Almadany, SD NU Nurul Islah, SD Muhammadiyah 1 GKB, UPT SDN 4 Gresik, UPT SDN 49 Gresik, SD Global School Al Ibrah, dan SD SIG.
Sementara dari Lamongan terdapat SDN Made 4, SDN Jetis 3, SD IT Cendekia, MI Unggulan Sabilillah (MIUS), serta SD Muhammadiyah Lamongan. Keterlibatan sekolah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat edukasi sekaligus deteksi dini gangguan penglihatan pada anak.
Direktur Optik Natamata Muhammad Rijaal Alhaq menuturkan menjaga kesehatan mata anak merupakan bagian dari investasi terhadap kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, anak yang mampu melihat dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, yang mencatat 82 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum bidang matematika. Menurutnya, prestasi akademik memang dipengaruhi banyak faktor, tetapi kesehatan penglihatan menjadi salah satu aspek yang tidak boleh diabaikan.
“Kita memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Penglihatan yang baik memang bukan satu-satunya faktor penentu prestasi, tetapi merupakan fondasi penting agar anak dapat menerima pembelajaran dengan maksimal,” katanya.
Rijaal menjelaskan, pengendalian myopia membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Orang tua menjadi pihak terdekat yang dapat mengenali perubahan perilaku anak, seperti sering menyipitkan mata, mendekatkan buku saat membaca, atau kesulitan melihat tulisan di papan kelas.
Dokter Spesialis Mata Eyelink Group, dr. Ria Sandy Deneska, Sp.M (K), mengatakan lonjakan kasus myopia secara global hingga 2050 perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pengenalan gejala sejak dini dapat membantu anak memperoleh penanganan yang sesuai sebelum gangguan penglihatan berkembang lebih jauh.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sejumlah pilihan dalam pengendalian myopia atau Myopia Care, yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Pilihan tersebut antara lain penggunaan kacamata dengan koreksi yang tepat, lensa defocus, obat tetes khusus, Orthokeratology (Ortho-K), hingga EDOF softlens.
“Seluruh penanganan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan mata secara menyeluruh oleh dokter mata dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” tuturnya.
Gerakan tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Puspitasari Wardani menyebut peningkatan myopia pada anak sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama. “Kami mengapresiasi hadirnya Gerakan Sosial ‘Vision Fest Myopia Care – Natamata’ sebagai upaya memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pencegahan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....