Tidak Mau Antre, PNS Parengan Aniaya Petugas SPBU
- 09 Feb 2026 12:58 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Tuban - Insiden kekerasan terjadi di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Seorang aparatur sipil negara (ASN) berinisial J, yang bertugas di Kantor Kecamatan Parengan, diduga melakukan penganiayaan terhadap empat pekerja SPBU pada Sabtu malam, 7 Februari 2026.
Peristiwa tersebut berlangsung di SPBU yang berada di ruas Jalan Cokrokusumo Parengan–Bojonegoro, tepatnya di Desa Parangbatu. Berdasarkan keterangan yang dihimpun pada Senin, 9 Februari 2026, kejadian bermula saat J mengantre untuk membeli BBM jenis Pertamax menggunakan mobil berwarna hitam.
Di depannya, terdapat sebuah sepeda motor matic yang lebih dulu menunggu giliran. Diduga karena merasa antrean berjalan terlalu lama, J tiba-tiba turun dari kendaraan dan menghampiri area pengisian.
Saat itu, operator SPBU tengah melakukan pengecekan stok BBM secara manual menggunakan deepstick. Tanpa diduga, J langsung meluapkan emosinya kepada petugas. “Pelaku tiba-tiba mendekat lalu menjambak rambut operator,” ujar Agus, salah satu mandor SPBU Parengan, saat dimintai keterangan.
Agus menjelaskan, terdapat empat pekerja SPBU yang menjadi korban, terdiri dari tiga operator dan satu mandor. Sebelum keributan terjadi, J datang mengenakan kaus berwarna oranye dan didampingi seorang penumpang yang juga diketahui sebagai pegawai kecamatan setempat.
Operator bernama Ferdi, yang saat itu melayani pengendara sepeda motor matic sesuai antrean, menjadi korban pertama. Ia mengaku tidak mengetahui penyebab dirinya tiba-tiba mendapat perlakuan kasar.
“Saya sedang melayani konsumen yang sudah antre, tiba-tiba rambut saya ditarik,” ucap Ferdi.
Aksi tersebut disaksikan langsung oleh Mandor SPBU, Ali Nasroh. Saat mencoba melerai dan menanyakan duduk persoalan, ia justru mendapat pukulan di bagian perut. Pelaku bahkan sempat melontarkan kalimat bernada ancaman sambil mengaku sebagai orang berpengaruh. Ketika pukulan kedua diarahkan, Nasroh berhasil menghindar.
Keributan semakin memanas ketika operator lain, Prasojo, ikut berusaha melerai. Namun, ia justru menjadi sasaran berikutnya. Pukulan mengenai wajahnya hingga membuatnya terjatuh, kemudian disusul hantaman ke bagian hidung yang menyebabkan pendarahan.
Akibat kejadian tersebut, Prasojo harus mendapatkan perawatan medis dan hingga keesokan harinya masih menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, pelaku juga diketahui menginjak kaki salah satu korban lainnya.
Tidak berhenti di situ, seorang pekerja kebun SPBU bernama Riswadi yang berupaya melerai juga menjadi korban pemukulan. Pipi kirinya mengalami pembengkakan akibat hantaman yang diterimanya.
Setelah melakukan aksi kekerasan secara beruntun, J bersama penumpangnya langsung meninggalkan lokasi menggunakan mobil, tanpa menunjukkan itikad meminta maaf kepada para korban.
“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Polsek Parengan,” kata pihak SPBU.
Kapolsek Parengan, IPTU Ramelan, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyampaikan bahwa seluruh korban telah menjalani visum dan pemeriksaan awal oleh penyidik. “Rencananya besok perkara ini akan kami limpahkan ke Polres Tuban,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Parengan, Dharmadin, mengakui bahwa berdasarkan informasi internal, insiden dipicu oleh rasa kesal pelaku karena merasa tidak segera dilayani dan tidak mendapatkan penjelasan dari petugas SPBU. Adu mulut kemudian berujung pada aksi saling serang.
“Kami berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....