Festival Jejak Budaya Hidupkan Kembali Benteng Batu Wulurat
- 20 Sep 2025 13:42 WIB
- Tual
KBRN, Langgur: Benteng Batu Wulurat di Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, kembali menjadi pusat perhatian publik setelah dijadikan lokasi penyelenggaraan Festival Jejak Budaya 2025 pada Jumat (19/9/2025). Peninggalan bersejarah yang dibangun leluhur Kei itu tidak lagi sekadar simbol masa lalu, tetapi ditampilkan sebagai ikon budaya dan kebangkitan jati diri masyarakat Evav.
Festival dibuka secara resmi oleh Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, yang disambut dengan prosesi adat berupa pengalungan syal, tarian panah, cakalele, serta doa bersama para tetua adat. Kehadiran ribuan warga dari berbagai ohoi di Pulau Kei Besar menambah semarak perayaan budaya tersebut.
| Baca juga: Pesona Pantai Ngiarwarat Maluku Tenggara |
“Hari ini saya tandai sebagai kebangkitan budaya Evav di Pulau Kei Besar. Benteng Batu bukan hanya sejarah, tetapi juga simbol identitas dan kekuatan kita,” ujar Thaher dalam sambutannya.
Acara itu turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, Dodi Wiranto, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh adat, serta pemerhati seni dan budaya. Festival digagas sebagai upaya menghidupkan kembali warisan arsitektur Benteng Batu Wulurat sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah Kei kepada generasi muda.
| Baca juga: Louis Margot, Perahu, dan Laut yang Bersaksi |

Benteng Batu Wulurat sendiri dibangun setelah empat marga besar Moryaan di Ohoi Ko, Morvwarin di Ohoi Karbo, Rahangiar di Ohoi Neyan, dan Sarkol di Ohoi Tuthoil sepakat menyatukan permukiman mereka di tengah ancaman keamanan. Permukiman baru itu dinamakan Kot Ohoiwait, yang kemudian dikenal sebagai Ohoi Wulurat. Dari situlah benteng berbentuk persegi dengan dua gerbang utama, dua pintu rahasia, jendela pengintai, serta tangga batu panjang di didirikan.
Arsitektur benteng menggunakan teknik batu pengunci yang membuat bangunannya tahan gempa. Namun, sebagian dinding pernah dipangkas oleh kolonial Belanda dengan alasan keselamatan. Hingga kini, meski permukiman meluas, benteng tetap menjadi warisan penting yang menunjukkan kecerdasan arsitektur dan strategi pertahanan leluhur Kei.
Festival Jejak Budaya 2025 diharapkan menjadi titik balik dalam upaya mengangkat martabat masyarakat Kei di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus menjadikan Benteng Batu Wulurat bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga sumber inspirasi kebangkitan budaya Evav yang harus terus dilestarikan. Pemerintah daerah menargetkan kegiatan ini berkembang sebagai agenda tahunan yang berdaya tarik, sehingga mampu menghadirkan wisatawan budaya ke Kepulauan Kei dan memperkuat posisi daerah sebagai pusat kebudayaan di Maluku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....