Jejak Harmoni Jerry dan Angela di Tanah Evav

  • 25 Jul 2025 17:27 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Dua sejoli pelancong dari Irlandia, Jerry dan Angela, tak menyangka Kepulauan Kei di timur Indonesia akan menyisakan jejak mendalam di hati mereka. Bukan sekadar bentang laut dan pantai dengan pasir putih yang indah, tapi harmoni yang mereka temukan di tanah Evav ini.

Mereka menjejakkan kaki di Pulau Kei melalui gelombang panjang pelayaran Sail to Indonesia 2025, yang membawa mereka dari Amerika Serikat hingga Australia. Setelah itu, langit Maluku Tenggara tepatnya di Pantai Ngiarvarat, Ohoidertawun, Kecamatan Kei Kecil, menjadi atap pertama mereka di Nusantara.

Petualangan mereka berlanjut ke Ohoi Letvuan, di mana kopi tumbuh dalam diam, tetapi berbicara lantang lewat aroma dan filosofi. Di sana, mereka menyaksikan satu pohon melahirkan dua jenis biji kopi: Arabika dan Robusta.

“Satu tanaman kopi itu menghasilkan dua jenis biji kopi, dan menurut saya itu luar biasa karena tidak terjadi di tempat lain,” ujar Jerry kepada awak media usai acara welocome ceremony wonderful sail to indonesia, Rabu (23/7/2025).

Tak hanya mengamati, mereka juga menyicip kopi Letvuan yang seduhannya menari lembut di lidah, namun meninggalkan bekas kuat di ingatan. Aroma tanah basah dan keramahan petani menyatu dalam tiap teguknya.

“Kami sudah mencicipi kopi itu. Rasanya kuat dan lembut,” sambung Jerry dengan senyum kecil.

Keesokan harinya, kaki mereka membawa langkah ke pusat Kota Langgur, di mana dua bangunan megah berdiri tenang: Masjid dan Gereja. Bagi mereka, inilah momen yang merangkum jiwa pulau ini, dua rumah ibadah yang menyapa dalam bahasa yang sama: kerukunan.

“Setelah kami pulang, saya melihat Masjid besar dan di seberangnya ada Gereja. Dan itu mengingatkan saya pada dua jenis kopi yang tumbuh dengan bahagia dari satu cabang,” kata Jerry.

Kesan itu meresap jauh dalam batin mereka, lebih dalam dari sekadar persinggahan wisata. Bagi Jerry dan Angela, rumah-rumah ibadah itu adalah lambang keberagaman yang hidup selaras, tak ubahnya dua rasa dalam satu batang kopi.

“Ini tidak terjadi di tempat lain. Jadi itu kesan pertama saya,” ucap Jerry penuh haru.

Angela menambahkan, keramahan masyarakat Kei menjelma semacam pelukan tanpa lengan, tapi terasa nyata di dada. Mereka tidak sekadar disambut, mereka diterima.

“Ada banyak cinta di pulau ini. Begitu banyak rasa hormat,” ujar Jerry, mewakili rasa syukur mereka.

Karena itulah, mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama, memperpanjang jejak, dan menanam harapan. Harapan itu bahkan mereka titipkan pada sebilah batang kopi yang kini tumbuh dengan nama mereka di Letvuan.

“Kami akan menetap enam bulan di sini. Dan tentu kedepan akan kembali lagi,” kata Jerry, menggenggam tangan Angela.

Bagi Angela, Kepulauan Kei bukan hanya tempat, melainkan cermin manusia yang penuh ketulusan dan kehangatan. Bagi Jerry, itu adalah tempat di mana perbedaan bisa hidup berdampingan, seperti kopi dan doa yang tumbuh dalam damai.

“Orang-orang di sini luar biasa, dan kami tahu, kami akan kembali,” ujar Angela.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....