Pengembangan UMKM Melalui Usaha Warung Nasi

  • 29 Mei 2025 13:08 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Pengembangan UMKM di Maluku Tenggara mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pusat. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk, akses pemasaran dan pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Usaha warung nasi menjadi salah satu peluang besar untuk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) bisa berkembang, terutama di wilayah Kota Tual dan Maluku Tenggara. Warung nasi menawarkan kemudahan dalam menjalankan bisnis dengan pasar yang luas dan diminati oleh berbagai kalangan.

Salah satu warung nasi yang terdapat di lingkungan Perumnas Ohoijang Watdek kabupaten Maluku Tenggara Milik pasangan suami istri Pak Bowo dan Ibu Wawa diberi nama “ Warung Bima -Jawa” sudah berjalan dua tahun. Pantauan rri.co.id kamis ( 29 / 5 / 2025 ) ramai dikunjungi pelanggan baik dari kota Tual maupun masyarakat setempat.

Warung nasi yang terletak di jalan utama dan strategis sehingga mudah dijangkau pengunjung yang pembangunannya tampak sederhana dengan menyediakan menu makanan sederhana pula diantaranya : Soto ayam, nasi campur, nasi ikan, ayam lalapan dan ayam geprek beserta ragam minuman panas dan dingin dengan harga terjangkau. Warung nasi milik ibu wawa dibuka setiap hari mulai pagi hingga sore kecuali hari minggu ditutup.

Seiring berkembangnya tekhnologi digital, maka dengan metode pembayaran di warung nasi juga sangat mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Beberapa warung nasi di Maluku Tenggara dan kota Tual sudah menerima pembayaran cashless atau sebuah sistem pembayaran tanpa uang tunai.

Namun warung Bima-Jawa masih menggunakan metode pembayaran dengan cara manual atau cash dengan alasan masih banyak masyarakat yang awam tentang transaksi digital.

“Warung Bima - Jawa belum menggunakan transaksi pembayaran dengan metode tekhnologi digital karena hampir pembeli disini belum paham dengan transaksi sperti itu terutama saya selaku pemilik warung, jadi masih seperti biasa yaitu secara manual.”Tuturnya

Diakui Wawa, omzet penjualan setiap hari berkisar 300.000 - 400.000 rupiah hanya cukup untuk pemutaran modal saja karena belum bisa memperoleh keuntungan yang besar disebabkan harga bahan pokok yang terlampau mahal. Meskipun harga sembako di pasar kota Tual dan Langgur dinilainya sangat meroket, namun ia tetap mempertahankan harga biasa yang masih dijangkau oleh pelanggan terutama anak-anak sekolah.

Jika dinaikkan harga, maka dia yakin daya beli masyarakat menurun terutama pelanggan setianya. Dengan lonjakan harga barang terutama kebutuhan pokok, Wawa berharap kepada pemerintahan yang baru ini bisa mensiasati dengan kondisi ekonomi masyarakat agar tidak terlalu berdampak pada pelaku UMKM sehingga tidak pesimis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....