Ancaman di Balik Paras Bening Perairan Kei: Menjaga Karang dari Risiko Kerusakan
- 24 Agt 2026 10:32 WIB
- Tual
RRI.co.id, Langgur - Keindahan alam bawah laut Kepulauan Kei memang tak perlu diragukan lagi, dengan kondisi terumbu karang yang secara umum masih terjaga dengan baik. Kendati demikian, tidak semua titik berada dalam kondisi aman. Akademisi sekaligus aktivis lingkungan, Nadira Fakoubun, S.Pi., M.Si., mengungkapkan bahwa beberapa kawasan, seperti perairan di sekitar Pulau Bair, memerlukan perhatian khusus akibat munculnya indikasi kerusakan. Kebutuhan mendesak ini memicu berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) untuk turun tangan menggelar aksi transplantasi karang demi memulihkan ekosistem setempat.
Upaya pemulihan ini menjadi sangat krusial mengingat lambatnya proses pertumbuhan alami terumbu karang. Dalam kurun waktu satu tahun, organisme ini umumnya hanya mampu tumbuh beberapa sentimeter saja. Kondisi fisik yang sangat lambat ini membuat karang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat pulih seperti sediakala. Kerusakan yang terjadi hanya dalam waktu satu detik akibat kelalaian manusia berbanding terbalik dengan durasi regenerasinya yang memakan waktu sangat panjang.
Dalam Podcast bersama RRI Langgur Nadira menjelaskan, bahwa ancaman terbesar bagi keberlanjutan ekosistem bawah laut ini justru datang dari aktivitas manusia. Terumbu karang merupakan organisme yang sangat sensitif terhadap pencemaran lingkungan, terutama limbah sampah plastik. Ketika sampah plastik tersangkut dan menutupi permukaan karang, hal itu menghalangi akses cahaya dan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh polip (hewan-hewan kecil penyusun struktur karang) untuk bertahan hidup.
Tekanan lingkungan tersebut berpotensi memicu tingkat stres yang tinggi pada polip karang. Ketika mengalami stres berat, polip akan melepas alga simbiotik yang hidup di dalam jaringannya, yang kemudian memicu fenomena pemutihan karang (bleaching). Jika kondisi ini dibiarkan berlangsung lama tanpa penanganan, karang akan kehilangan nutrisi utamanya dan berujung pada kematian masal yang merusak tatanan rantai makanan di laut.
Selain masalah sampah, ancaman langsung dari aktivitas pariwisata dan praktik penangkapan ikan ilegal turut memperparah kondisi di lapangan. Banyak wisatawan yang kurang teredukasi tanpa sadar menginjak karang saat beraktivitas snorkeling. Dampak yang jauh lebih masif dan fatal tentu datang dari penggunaan bahan peledak oleh oknum tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, kesadaran bersama menjadi kunci utama agar pesona bawah laut Kepulauan Kei tetap lestari hingga masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....