Menjaga Bunyi Leluhur dari Rewav: Dedikasi Hipolitus Leisubun

  • 26 Mar 2026 08:45 WIB
  •  Tual

RRI.co.id, Langgur - Di sebuah sudut tenang di Ohoi Rewav, suara seruling sederhana kerap mengalun lembut, menyatu dengan semilir angin dan suasana kampung. Dari tangan seorang lelaki bernama Hipolitus Leisubun, savarngil (seruling tradisional khas Kei) lahir bukan sekadar sebagai alat musik, melainkan sebagai perpanjangan rasa dan ingatan. Bagi warga sekitar, bunyi yang ia hasilkan terasa berbeda, seolah membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar nada.

Hipolitus bukanlah perajin yang belajar dari buku atau pelatihan formal. Keahliannya tumbuh secara alami, hanya dengan melihat dan mengamati orang-orang tua terdahulu. Dari situ, ia meraba sendiri proses demi proses, hingga akhirnya memahami bagaimana sepotong bambu bisa berubah menjadi savarngil yang hidup. Baginya, membuat seruling bukan soal rumus, melainkan soal rasa—hal yang tidak bisa diajarkan, hanya bisa dirasakan.

Dalam setiap proses pembuatan, tantangan menjadi hal yang tak terpisahkan. Hipolitus mengaku, dalam sekali membuat savarngil, ia bisa mengalami empat hingga lima kali kegagalan. Perbedaan satu atau dua milimeter pada lubang seruling saja dapat mengubah bunyi secara drastis. Tidak ada ukuran pasti yang bisa dijadikan patokan. Ia hanya mengandalkan insting, mencoba, mendengar, lalu memperbaiki. Jika upaya mengakali tidak berhasil, ia tak ragu untuk memulai kembali dari awal.

Namun, di balik proses yang penuh kesabaran itu, tersimpan keyakinan yang kuat. Hipolitus percaya bahwa bunyi savarngil bukan hanya untuk dinikmati manusia. Ia menginginkan suara yang dihasilkan bisa “sampai ke langit,” sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Nada-nada yang keluar dari savarngil baginya adalah penghubung antara masa kini dengan masa lalu yang terus hidup dalam ingatan.

Kini, ketika Ohoi Rewav mulai diwacanakan sebagai desa wisata budaya karena kekayaan tradisi musiknya, sosok seperti Hipolitus menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Di balik rencana besar itu, ada tangan-tangan sederhana yang setia menjaga warisan. Bagi Hipolitus sendiri, savarngil bukan sekadar alat musik, melainkan penghibur setia yang selalu membawanya kembali ke masa kecil, di mana segala sesuatu terasa lebih dekat, lebih hangat, dan penuh makna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....