Sasi Lindungi Teripang Hasil Sea Ranching di Ur Pulau

  • 02 Okt 2026 14:53 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur: Upaya memulihkan populasi teripang di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, tidak hanya mengandalkan penebaran anakan teripang ke alam, tetapi juga diperkuat dengan penerapan hukum adat Sasi.

Strategi tersebut diterapkan dalam program Sea Ranching teripang pasir atau holothuria scabra di Desa Ur Pulau, Maluku Tenggara, yang digagas kelompok Salterai bersama BRIN, Polikant dan Epistema Institute.

Pada 29 September 2026, sebanyak dua ribu dua ratus ekor anakan teripang pasir ditebar di ekosistem lamun Desa Ur Pulau. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan upacara tutup Sasi untuk mencegah pengambilan teripang sebelum memasuki masa panen.

Ketua konsorsium, George Kolyaan, mengatakan penerapan Sasi menjadi bagian penting dalam model sea ranching karena memberikan ruang bagi anakan teripang untuk tumbuh dan berkembang di alam tanpa gangguan penangkapan.

Selain itu, anakan teripang yang ditebar akan dimonitoring setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Hasil monitoring akan digunakan untuk memperkirakan potensi hasil saat sasi dibuka dan teripang dapat dipanen.

Kolyaan menilai, kolaborasi antara pendekatan ilmiah melalui sea ranching dan kearifan lokal melalui Sasi dapat menjadi praktik pengelolaan sumber daya pesisir berbasis masyarakat.

Pelaksanaan program ini melibatkan pemerintah Desa Ur Pulau dan Gereja Protestan Maluku (GPM), Klasis Pulau-pulau Kei Kecil dan Kota Tual, serta mendapat dukungan dari Wakil Bupati Maluku Tenggara, pangkalan PSDKP Tual, Dinas Perikanan Provinsi Maluku dan Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara.

Kolyaan menyebut, jika model serupa diterapkan di berbagai ekosistem lamun di Kepulauan Kei, dengan penebaran anakan teripang dalam jumlah besar dan perlindungan Sasi selama satu hingga dua tahun, maka potensi produksi teripang sekaligus perlindungan ekosistem lamun dapat ditingkatkan.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan populasi teripang yang mengalami tekanan akibat penangkapan berlebihan, tetapi juga membuka peluang penguatan mata pencaharian masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....