Bupati Thaher Audiensi di Mina Bahari IV KKP, Dorong Maluku Tenggara Jadi Sentra Rum

  • 30 Sep 2026 07:53 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Jakarta - Bupati Maluku Tenggara Drs. Hi. M. Thaher Hanubun melanjutkan agenda maraton pembangunan ekonomi desa di Jakarta dengan melakukan audiensi khusus bersama Direktur Budidaya Rumput Laut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Ir. Nono Hartanto, M.Aq.

Pertemuan berlangsung di Gedung Mina Bahari IV, Kantor Kementerian KKP, Jakarta Pusat, Selasa (29/09/2026) siang. Fokus tunggal: percepatan peningkatan dan pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara.

Bupati Thaher datang dengan data lengkap. Ia memaparkan Maluku Tenggara memiliki kawasan budidaya rumput laut seluas 8.862 hektare yang tersebar di wilayah pesisir Kei Kecil dan Kei Besar. Namun yang baru termanfaatkan sekitar 1.380 hektare atau hanya 15,5 persen.

Produksi tahun 2024 tercatat 46.788 ton yang digerakkan oleh 2.398 pembudidaya rakyat. Potensi pasar sangat besar, tetapi harga di tingkat petani masih fluktuatif antara Rp13.000 hingga Rp30.000 per kilogram, sehingga pendapatan pembudidaya belum stabil.

"Potensi kami besar, pemanfaatannya masih rendah. Ini pesan yang saya sampaikan ke Wamendes kemarin, dan hari ini saya tegaskan lagi di KKP. Laut Kei adalah modal utama desa pesisir," ujar Bupati Thaher di hadapan Direktur Budidaya Rumput Laut.

Menurut Bupati Thaher, ada tiga persoalan utama yang dihadapi pembudidaya rumput laut di Kei. Pertama, sarana budidaya dan bibit unggul masih terbatas. Kedua, rantai pasok dan rantai dingin belum terbangun sehingga petani menjual dalam bentuk kering mentah. Ketiga, akses pasar masih bergantung pada pengepul luar daerah tanpa kepastian harga.

Untuk itu, Bupati mengajukan empat usulan konkret kepada KKP:

Pertama, penguatan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang tahun ini diproses di lima lokasi pesisir sebagai pusat pembinaan pembudidaya.

Kedua,bantuan sarana budidaya berupa tali, pelampung, jangkar dan perahu, serta pendampingan bibit kultur jaringan.

Ketiga, pembangunan rantai dingin dan gudang penyimpanan di desa-desa sentra rumput laut untuk menjaga kualitas pasca panen.

Keempat, hilirisasi rumput laut skala desa. Tidak lagi menjual bahan mentah, tetapi diolah menjadi karaginan, pupuk organik dan produk pangan melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang telah terbentuk di 190 desa.

"KDMP kami sudah 100 persen terbentuk, 25 gerai sudah ada. KDMP inilah yang akan kami dorong menjadi simpul pengolahan dan pemasaran rumput laut. Jadi nilai tambah tinggal di desa," kata Thaher.

Direktur Budidaya Rumput Laut KKP Ir. Nono Hartanto, M.Aq menyambut baik paparan tersebut. Ia menilai Maluku Tenggara memiliki keunggulan komparatif dibanding daerah lain: perairan terlindung, arus cocok untuk Eucheuma cottonii dan Gracilaria, serta pembudidaya yang sudah berpengalaman secara turun-temurun.

Nono Hartanto menegaskan KKP siap mendukung Malra melalui program pengembangan kawasan budidaya, bantuan sarpras, pelatihan pembudidaya dan fasilitasi kemitraan off-taker.

"Maluku Tenggara potensial menjadi sentra rumput laut di Maluku bahkan kawasan timur. Kami akan sinkronkan dengan program nasional budidaya rumput laut berkelanjutan," ujar Nono.

Audiensi di Mina Bahari IV ini merupakan rangkaian kedua setelah audiensi Bupati Malra bersama Wakil Menteri Desa PDT Ahmad Riza Patria pada 28 September 2026 yang membahas ekonomi 190 desa.

Dengan dua pintu dukungan sekaligus, Kemendes untuk kelembagaan dan gerai KDMP, dan KKP untuk budidaya dan hilirisasi, Bupati Thaher optimis ekonomi desa pesisir Maluku Tenggara akan berdaya, mandiri dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....