Kemarau Panjang, Petani Enbal di Kepulauan Kei Keluhkan Gagal Panen

  • 22 Sep 2026 08:16 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur - Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kepulauan Kei mulai dirasakan dampaknya oleh para petani. Salah satu komoditas pangan yang terdampak adalah enbal atau singkong beracun, tanaman pangan yang telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan dan konsumsi masyarakat Kei.

Minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir membuat kondisi lahan pertanian semakin kering. Tanaman enbal yang membutuhkan kondisi tanah dan kelembapan yang cukup mengalami pertumbuhan yang tidak optimal. Sejumlah petani mengeluhkan hasil tanaman yang menurun, bahkan sebagian lahan mengalami gagal panen.

Kondisi tersebut membuat petani harus menghadapi kerugian karena hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan selama proses penanaman dan pemeliharaan.

Salah seorang petani enbal mengungkapkan bahwa kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat tanaman sulit berkembang. Kondisi tanah yang kering serta terbatasnya ketersediaan air menyebabkan tanaman tidak tumbuh sebagaimana biasanya.

“Kami berharap hujan segera turun. Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, tanaman sulit tumbuh dan hasil panen semakin berkurang, sebenarnya enbal ini tahan terhadap kondisi panas, tapi kali ini panasnya ekstrim dan sngat lama jadi walaupun tanaman enbal tahan panas tapi kalau kelamaan juga bisa mati, pertumbuhannya tidak bagus, enbal itu usia panen 9 bulan sampai 1 tahun itu sudah sangat bagus hasilnya tapi untuk tahun ini gagal total, isinya tidak seberapa”, ujar baco Petani singkong di desa fiditan

Bagi masyarakat Kei, enbal bukan hanya komoditas pertanian, tetapi juga memiliki nilai penting dalam kehidupan pangan dan budaya masyarakat. Enbal dapat diolah menjadi berbagai jenis pangan dan telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat setempat.

Menurunnya hasil panen enbal akibat kondisi cuaca tersebut dikhawatirkan turut memengaruhi ketersediaan pangan lokal. Petani berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah maupun pihak terkait untuk membantu mereka menghadapi dampak kemarau, termasuk melalui pendampingan pertanian, pengelolaan sumber air, serta upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan lokal.

Para petani juga berharap kondisi cuaca segera kembali normal sehingga lahan pertanian memperoleh pasokan air yang cukup dan tanaman enbal dapat kembali tumbuh dengan baik.

Kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ketahanan pangan berbasis komoditas lokal, khususnya di wilayah kepulauan yang sebagian masyarakatnya masih mengandalkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Di tengah ancaman perubahan kondisi iklim dan musim yang sulit diprediksi, keberlangsungan produksi enbal menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian bersama demi menjaga ketersediaan pangan lokal dan kehidupan ekonomi para petani di Kepulauan Kei.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....