Produksi Rumput Laut Malra Turun, Harga Rp27 Ribu Picu Budidaya Bangkit

  • 19 Sep 2026 19:29 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur – Budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara mulai kembali tumbuh setelah harga komoditas tersebut berada di kisaran Rp27 ribu per kilogram. Perbaikan harga mendorong pembudidaya kembali mengembangkan usaha setelah produksi sempat tertekan akibat penyakit dan kondisi pasar, Sabtu (19/9/2026).

Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara Ruslan A. G. Ingratubun menjelaskan, harga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas pembudidaya rumput laut. Ketika harga membaik, masyarakat mulai kembali mengembangkan budidaya di sejumlah kawasan.

“Sekarang harga rumput laut sudah sekitar 27 ribu rupiah per kilogram. Jadi masyarakat mulai kembali membudidayakan karena harganya sudah mulai bagus,” ujar Ruslan saat menyampaikan materi dalam kegiatan Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF 6 - CFI Indonesia untuk mendukung Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan, di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur, Selasa (8/9/2026).

Ruslan mengungkapkan, produksi rumput laut Maluku Tenggara pada 2024 tercatat sekitar 5.800 ton. Produksi kemudian menurun pada 2025, setelah salah satu klaster budidaya terdampak penyakit ice-ice dan kondisi harga yang kurang mendukung.

Penyakit ice-ice ditandai dengan memutihnya bagian utama tanaman atau talus akibat hilangnya pigmen. Kondisi tersebut dapat dipicu perubahan lingkungan, seperti suhu dan salinitas air, yang membuat rumput laut mengalami stres dan lebih rentan terhadap infeksi bakteri.

Gangguan tersebut berdampak pada kegiatan budidaya yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat pesisir Maluku Tenggara. Data pemerintah daerah mencatat terdapat 2.398 pembudidaya rumput laut pada 2024, yang tersebar dalam 799 rumah tangga perikanan atau kelompok usaha pembudidaya.

Dengan basis pembudidaya yang cukup besar, pemulihan produksi menjadi bagian dari upaya menggerakkan kembali kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Peluang tersebut masih didukung ketersediaan kawasan budidaya yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Dokumen pemerintah daerah mencatat kawasan budidaya rumput laut mencapai sekitar 8.662 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 1.380 hektare telah dimanfaatkan, sedangkan lebih dari 7.200 hektare lainnya belum digunakan.

Kondisi ini memberi ruang bagi pengembangan kembali budidaya rumput laut, terutama jika pembudidaya dapat mempertahankan produktivitas sekaligus mengantisipasi penyakit yang sebelumnya mengganggu produksi. Dengan harga yang mulai membaik, pemulihan budidaya diharapkan dapat kembali meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat pesisir Maluku Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....