Eksportir Soroti Kematian Ikan, Perubahan Suhu di Musim Timur Jadi Perhatian
- 19 Sep 2026 15:38 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur – Tingginya kematian ikan di kawasan Sitniohoi dan Pulau Ur menjadi persoalan yang disoroti pelaku usaha perikanan dalam forum yang membahas tata kelola logistik dan peluang ekspor produk perikanan Maluku.
Perwakilan CV Yong Fisheries, Firman Kabalmay, menyampaikan persoalan tersebut dalam Forum Konsultasi Publik Strategi Mendorong Tata Kelola Logistik dan Peluang Ekspor Produk Perikanan di Aula KPPN Tual, Rabu (16/9/2026).
Firman menjelaskan, ikan yang dikumpulkan untuk kebutuhan ekspor ke Hong Kong tidak hanya berasal dari Tual, tetapi juga dari Raja Ampat, Larat, dan Maluku Tenggara, termasuk Dobo. Pada ekspor terakhir Agustus 2026, total ikan yang dikumpulkan dari sejumlah wilayah mencapai lebih dari tiga ton.
Di tengah pengumpulan ikan tersebut, Firman menyoroti tingginya angka kematian ikan yang ditemukan di sejumlah lokasi, khususnya Sitniohoi dan Pulau Ur. Ia mempertanyakan faktor yang menyebabkan banyak ikan mati serta bagaimana perlakuan yang tepat terhadap ikan pada kondisi musim seperti saat ini.
“Masalah yang kita temukan, banyak ikan keramba yang mati, khususnya di daerah Sitniohoi sama di Pulau Ur. Angka kematian itu paling tinggi,” ujar Firman.
Menanggapi persoalan tersebut, Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual, Dr. Usman Madubun, mengatakan penyebab kematian ikan perlu diteliti terlebih dahulu. Faktor penyebabnya dapat berupa penyakit, perubahan kondisi lingkungan, maupun faktor lain yang terjadi di perairan.
Usman menjelaskan, pada musim timur salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah perubahan suhu air yang cukup drastis. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena upwelling di Laut Banda, ketika massa air dari lapisan bawah naik ke permukaan akibat pengaruh angin musim timur.
Perubahan suhu yang terlalu besar dapat menyebabkan ikan mengalami stres. Usman menyebut perubahan suhu lebih dari dua derajat Celsius berpotensi memicu stres hingga kematian ikan.
“Kalau perubahan suhu lebih dari dua derajat Celsius, itu sudah bisa menyebabkan stres yang bisa menyebabkan kematian ikan,” kata Usman.
Risiko tersebut dapat menjadi persoalan bagi ikan yang dipelihara dalam keramba. Ikan tidak dapat dengan mudah berpindah ketika kondisi perairan berubah, sehingga tetap berada di lingkungan dengan kondisi suhu yang tidak sesuai.
Selain perubahan suhu, musim timur juga dapat meningkatkan kesuburan perairan dan pertumbuhan plankton tertentu. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas perairan dan oksigen yang dibutuhkan ikan.
Karena itu, Usman menyarankan pemantauan kondisi perairan dilakukan lebih intensif selama musim timur, terutama dengan mengukur suhu dan oksigen terlarut untuk mengetahui perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup ikan.
“Yang paling tidak, ada dua parameter penting yang harus diukur, yang pertama suhu dan yang kedua oksigen terlarut. Tetapi yang paling bermasalah pada musim seperti ini adalah suhu,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....