Tiga Pasal Larvul Ngabal Lindungi Perempuan, Bupati Thaher Ingatkan Maknanya
- 07 Sep 2026 20:01 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur – Perempuan memiliki kedudukan penting dalam hukum adat dan kehidupan masyarakat Kei. Hal itu ditegaskan Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun saat memperingati Hari Nen Ditsakmas ke-8 Tahun 2026 melalui ziarah ke makam Rat Ohoivur di Ohoi Letvuan dan makam Nen Ditsakmas di Ohoi Semawi, Senin (7/9/2026).
Thaher mengatakan, keberadaan hukum adat Larvul Ngabal tidak terlepas dari peran Nen Ditsakmas. Dalam sejarah dan tradisi masyarakat Kei, Ditsakmas disebut berperan bersama para Hila’ai dalam menyatukan dua unsur hukum adat tersebut.
“Larvul itu hukum pidana, Ngabal itu hukum perdata. Ini datang dari perempuan bernama Ditsakmas. Dia gabungkan dua unsur,” kata Thaher.
Menurut Thaher, sosok Nen Ditsakmas menggambarkan perempuan Kei yang tangguh dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Ketangguhan itu, juga tercermin dari kemampuan perempuan Kei menjalani kehidupan yang dekat dengan alam, termasuk mencari kebutuhan hidup di laut dan hutan.
Thaher menjelaskan, penghormatan terhadap perempuan juga tercermin dalam tujuh pasal hukum adat Larvul Ngabal. Dari tujuh pasal tersebut, terdapat tiga pasal yang berkaitan dengan perlindungan terhadap perempuan, terutama menyangkut harta, kehormatan dan martabat.
“Di situ harta dan martabat wanita. Boleh punya kekurangan, tapi tidak boleh dianggap sepele. Di Kei, wanita sangat dihargai,” ujarnya.
Thaher menegaskan, nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai bagian dari sejarah adat, tetapi harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan generasi muda agar mengenal Larvul Ngabal sehingga nilai penghormatan terhadap perempuan tetap terjaga.
Perempuan dan tanah merupakan dua hal yang sangat berkaitan dengan kehormatan dan martabat keluarga dalam kehidupan masyarakat Kei. Karena itu, gangguan terhadap kehormatan perempuan maupun persoalan tanah dapat memicu konflik di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Nen Ditsakmas tahun ini juga membawa pesan persatuan. Dalam prosesi ziarah, perwakilan dari agama Katolik, Islam dan Protestan berjalan bersama sebagai simbol kebersamaan masyarakat Kei serta penghormatan terhadap nilai adat yang diwariskan para leluhur.
Diharapkan peringatan Nen Ditsakmas tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk kembali memahami nilai-nilai adat Kei. Penghormatan terhadap perempuan harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....