“Beta Kei”, ketika Tanah Kei Menjadi Rumah Bersama
- 02 Sep 2026 08:04 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur – Di tanah Kei, seseorang tidak harus lahir di daerah ini untuk menjadi bagian dari masyarakatnya. Bagi Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun, siapa pun yang datang, tinggal, dan hidup bersama masyarakat Kei sudah sepatutnya diterima sebagai orang Kei.
Pesan itu disampaikan Thaher saat membuka Kampanye dan Pergerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (Germas), Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta pemeriksaan kesehatan oleh dokter spesialis anak dan dokter spesialis THT di Ohoi Dunwahan, Kecamatan Kei Kecil, Selasa (1/9/2026).
Thaher kembali menjelaskan makna ungkapan “Beta Kei” atau “Ya'a Evav” yang sebelumnya ia sampaikan. Istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat batas antara orang asli Kei dan mereka yang datang dari luar.
“Berapa hari yang lalu ada saya bikin saya beta Kei atau ‘Ya'a Evav’. Orang tak mengerti itu apa beta Kei. Orang tak mengerti maksudnya itu apa. Siapapun dia, dari manapun dia ketika datang di Kei, itu dia orang Kei,” ujar Thaher.
Menurut Thaher, ketika seseorang memilih datang dan tinggal di Kei, ia juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melihat perbedaan asal-usul sebagai alasan untuk membangun jarak dalam kehidupan bersama.
Ia mengatakan, menjadi bagian dari orang Kei juga berarti memahami nilai dan tata cara yang hidup di tanah ini. Sebab, Kei memiliki aturan dan cara hidup yang harus dihormati oleh siapa pun yang berada di dalamnya.
“Itu yang perlu saya sampaikan. Tanah ini dia bertuan. Daerah evav ini dia bertuan. Kalau kita mengaku diri kita orang Kei tapi tidak mengerti, dia punya tata cara, orang Kei itu punya tata cara,” katanya.
Thaher mengingatkan salah satu nilai yang menjadi ciri kuat masyarakat Kei, yakni cara memperlakukan orang yang datang sebagai tamu. Penerimaan terhadap orang lain, merupakan bagian dari jati diri orang Kei.
“Orang yang datang tinggal dan bertamu di sini itu diperagungkan luar biasa oleh orang Kei. Tidak pernah membedakan bahkan orang datang ke rumah kita, kita lebih sayang yang datang itu daripada kita punya anak di rumah. Itu asli orang Kei,” ucap Thaher.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar identitas sebagai orang Kei tidak hanya berhenti pada ucapan. Sikap dan perilaku sehari-hari juga harus mencerminkan nilai persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama.
Bagi Thaher, “Beta Kei” pada akhirnya adalah ajakan untuk membangun kehidupan bersama tanpa mempersoalkan dari mana seseorang berasal. Ketika semua orang mampu saling menerima dan menghormati, tanah Kei dapat menjadi rumah bersama bagi siapa pun yang hidup di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....