Fenomena Karhutla Menjadi Ancaman Nyata di Teritori Kepulauan Kei
- 31 Agt 2026 17:53 WIB
- Tual
Editorial RRI, Oleh : Redaktur Senior, Jack Resubun
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama ini sering dipersepsikan sebagai masalah khas pulau-pulau besar seperti Sumatra atau Kalimantan. Namun, kecenderungan beberapa tahun terakhir menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan: ancaman ini telah merambah ke wilayah kepulauan kecil, termasuk Kepulauan Kei, Senin (31/8/2026).
Karhutla di wilayah ini bukan lagi sekadar potensi risiko, melainkan ancaman nyata yang menuntut perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak.v Ekosistem kepulauan kecil memiliki karakter geografis yang sangat khas sekaligus rentan. Vegetasi yang mengering akibat paparan musim kemarau panjang, dipadu dengan pola pembukaan lahan tradisional yang kurang terkontrol.
Kejadian ini menjadi pemantik utama munculnya titik-titik api. Di kawasan seperti Kepulauan Kei, dampak Karhutla jauh lebih intensif terasa karena daya dukung lingkungan pulau kecil yang terbatas.
Dampak buruk dari karhutla di Kepulauan Kei merambah berbagai sektor vital berdampak pada Kerusakan Ekosistem dan Keragaman Hayati dimana Hutan di kawasan pulau kecil berfungsi sebagai benteng pertahanan alami.
Kebakaran merusak struktur vegetasi, memicu erosi tanah saat musim hujan tiba, serta mengancam keanekaragaman hayati endemik yang habitatnya semakin menyusut. Krisis Air Bersih berujung pada daya dukung hutan berfungsi sebagai kawasan tangkapan air.
Ketika tutupan hutan terbakar dan gundul, kemampuan tanah menyimpan air merosot tajam, yang berujung pada ancaman krisis air bersih bagi pemukiman warga di sekitarnya.
Dampak laiinnya, Gangguan Kesehatan dan Ekonomi, berasal dari Asap hasil pembakaran memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, jarak pandang yang terbatas memicu gangguan lalu lintas transportasi darat, laut, hingga penerbangan yang mengisolasi konektivitas antar-pulau.
Menghadapi tantangan ini, penanganan Karhutla di Kepulauan Kei tidak bisa sekadar mengandalkan langkah pemadaman reaktif saat api sudah membesar. Diperlukan reposisi strategi pencegahan berbasis kearifan lokal yang dipadukan dengan manajemen bencana modern.
Penguatan peran masyarakat adat dan kelembagaan lokal dalam mengawasi penggunaan api saat pembersihan lahan adalah kunci awal pencegahan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu memperkuat sistem deteksi dini titik panas (hotspot), mengedukasi masyarakat secara masif tentang bahaya pembakaran lahan bebas, serta menyiapkan sarana tanggap darurat yang siap siagakan di tingkat lokal.
Menjaga kelestarian hutan dan lahan di Kepulauan Kei bukan sekadar urusan memadamkan api, melainkan upaya menjaga ruang hidup, kesehatan, dan masa depan generasi kepulauan dari krisis lingkungan yang kian nyata.
Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Maluku Tenggara menyebutkan, telah terjadi 33 kejadian sepanjang bulan Agustus 2026 dengan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu yang paling banyak terjadi.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Maluku Tenggara, A. Rahman Madubun, mengatakan peningkatan tersebut terjadi di tengah aktivitas masyarakat yang membersihkan lahan untuk berkebun.
Praktik pembakaran sampah di area yang dipenuhi rerumputan, semak, dan dahan kering membuat api mudah merambat ke sekitarnya. Olehnya karena itu, hal ini menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat, untuk melalui mitigasi bencana demi mewujudkan Kepulauan Kei yang Asri, Sehat dan Lestari dari efek buruk Karhutla.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....