Adat, Aingam, dan Kubni: Tiga Pilar yang Menjaga Kei Tetap Berdiri
- 10 Agt 2026 11:55 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur – Di Kepulauan Kei, kehidupan masyarakat tidak hanya ditopang oleh aturan pemerintahan atau pembangunan fisik semata. Ada tiga kekuatan yang selama ratusan tahun menjadi penyangga kehidupan bersama, yakni adat, Aingam, dan Kubni.
Ketiga unsur itu kembali diingatkan Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun melalui sambutan yang dibacakan Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam dalam Perayaan Misa Perdana Pastor Belly Yoakhim Resubun, MSC di Ohoi Ngilngof, Jumat (7/8/2026).
Bagi masyarakat Kei, adat bukan sekadar warisan leluhur yang tersimpan dalam cerita masa lalu. Adat adalah aturan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan lingkungannya. Di dalamnya terdapat nilai kejujuran, penghormatan, musyawarah, hingga semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas masyarakat Kei.
Sementara Aingam atau agama menjadi sumber nilai spiritual yang membimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan. Agama tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Adapun Kubni, yang dalam pemahaman masyarakat Kei merujuk pada pemerintahan, memiliki peran menjaga keteraturan, pelayanan publik, dan arah pembangunan daerah. Melalui Kubni, berbagai kebutuhan masyarakat diterjemahkan ke dalam program dan kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Bupati Thaher menegaskan, ketiga unsur tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Adat, Aingam, dan Kubni harus saling menguatkan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Adat, Aingam, dan Kubni harus berjalan seimbang. Ketiganya merupakan kekuatan yang selama ini menjaga kehidupan masyarakat Kei tetap kokoh,” demikian pesan Bupati yang dibacakan Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam.
Menurut Thaher, sejarah telah menunjukkan masyarakat Kei mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan karena memiliki landasan sosial dan budaya yang kuat. Ketika adat dihormati, nilai agama dijalankan, dan pemerintahan bekerja dengan baik, kehidupan masyarakat akan lebih mudah mencapai harmoni.
Pesan itu terasa relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Arus informasi, perkembangan teknologi, dan perubahan pola hidup masyarakat sering kali membawa tantangan baru yang dapat mengikis nilai-nilai kebersamaan jika tidak diimbangi dengan penguatan identitas budaya dan spiritual.
Karena itu, Bupati Thaher mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya yang telah diwariskan para leluhur. Kemajuan pendidikan dan teknologi, harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap adat serta penghayatan nilai-nilai keagamaan.
Bagi Thaher, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat tetap mampu hidup rukun, menghormati adat, mengamalkan ajaran agama, dan mendukung pemerintahan yang bekerja untuk kepentingan rakyat.
Momentum Misa Perdana Pastor Belly pun menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan tersebut. Kehadiran seorang imam baru tidak hanya memperkuat pelayanan Gereja Katolik, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan orang Kei.
Di tengah berbagai perubahan yang terus berlangsung, pesan tentang Adat, Aingam, dan Kubni menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati dirinya. Sebab selama tiga pilar itu tetap berdiri kokoh, masyarakat Kei diyakini akan terus menjaga harmoni dan persaudaraan yang menjadi warisan paling berharga dari para leluhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....