Ketua Klasis GPM PP Aru Ajak Semua Pihak Berdoa Demi Menciptakan Suasana Damai
- 16 Jun 2026 08:25 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Tual - Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Aru, Pdt. Hengky Musa, mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama berdoa dan menjaga kedamaian, menyusul situasi pertikaian yang terjadi antara warga Desa Salarem dan Desa Kalar-Kalar di Kota Dobo.
Dalam wawancara bersama RRI di ruang kerjanya, Senin (15/6/2026), Pdt. Hengky Musa menyampaikan keprihatinan Gereja Protestan Maluku (GPM) terhadap kondisi keamanan yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru sedang menghadapi tantangan serius.
Ia menjelaskan bahwa sebelum terjadinya konflik antara warga Salarem dan Kalar-Kalar, telah terjadi sejumlah perkelahian antarkelompok di beberapa wilayah Kota Dobo, seperti di kawasan Dok, Kampung Belanda, Kolambom, Kampis, Laser, belakang Gereja Katolik, belakang SMP Negeri 1, hingga kawasan belakang Kantor DPRD.
“Menyikapi situasi tersebut, pihak gereja telah turun langsung ke berbagai kompleks untuk melakukan pembinaan Kamtibmas, menyampaikan seruan Pastoral, serta melakukan doa dan pergumulan bersama masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, setelah kondisi di sejumlah kompleks mulai membaik, muncul konflik antara warga Desa Salarem dan Desa Kalar-Kalar. Majelis Jemaat GPM Sinar Kasih pun telah berupaya melakukan pendekatan dan doa bersama di titik-titik yang menjadi lokasi bentrokan. Namun hingga kini, kondisi yang aman, nyaman, dan damai sebagaimana diharapkan seluruh masyarakat Aru belum sepenuhnya terwujud.
Pdt. Hengky Musa menilai bahwa berbagai pendekatan, termasuk pendekatan budaya yang dilakukan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para tetua adat dari kedua desa, telah dilakukan. Namun insiden saling serang masih terjadi sehingga diperlukan perhatian dan keterlibatan semua pihak.
“Tokoh agama harus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh adat. Tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Harus ada langkah bersama untuk mengatasi situasi ini. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan korban jiwa, dan itu harus kita hindari,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi falsafah hidup masyarakat Aru, yakni Sita Ekatu dan Sita Kakawalike, yang mengajarkan persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Lebih lanjut, Pdt. Hengky Musa menjelaskan bahwa masyarakat di kedua desa yang bertikai terdiri dari berbagai pemeluk agama, yakni Protestan, Katolik, dan Islam. Karena itu, para tokoh lintas agama perlu segera mengambil langkah bersama untuk meredam situasi.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Wakil Uskup. Namun karena beliau sedang berada di luar daerah, pertemuan bersama belum dapat dilakukan. Kami berharap dalam satu atau dua hari ke depan dapat dilakukan pertemuan lintas agama untuk mencari format terbaik dalam membantu penyelesaian konflik sesuai peran kami sebagai tokoh agama,” kata Pdt. Hengky Musa.
Selain itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana penyebaran provokasi, ujaran kebencian, maupun informasi yang belum tentu benar apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Aru untuk menahan diri dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Gunakan media sosial secara bijak agar tidak menjadi alat yang memicu konflik,” ujarnya.
Sebagai tokoh agama, ia juga mengajak seluruh umat beragama untuk memperbanyak doa demi terciptanya kedamaian di Kabupaten Kepulauan Aru.
“Mari kita semua mengambil bagian dalam menciptakan suasana damai di Aru. Doa dan kebersamaan sangat dibutuhkan agar situasi ini segera pulih,” harapnya.
Pantauan RRI di Dobo menunjukkan bahwa situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif. Namun berbagai upaya terus dilakukan oleh tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta aparat TNI dan Polri untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan konflik yang terjadi.
Pada Senin (15/6/2026), para tetua adat telah melakukan pemasangan sasi di sejumlah titik yang dianggap sebagai lokasi kejadian perkara. Sementara itu, aparat TNI dan Polri tetap bersiaga dengan menempatkan personel pada sejumlah pos pengamanan guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
(Reporter: Bosko Korisen)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....