Pemda Aru Terus Mediasi Konflik Antarpemuda Salarem dan Kalar-Kalar

  • 12 Jun 2026 16:01 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Tual - Upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru untuk menyelesaikan konflik antarkelompok pemuda dari Desa Salarem dan Desa Kalar-Kalar masih terus dilakukan. Hingga kini, proses perdamaian belum mencapai kesepakatan final dan masih dalam tahap mediasi antara kedua belah pihak.

Camat Pulau-Pulau Aru, Ongky Goulap, kepada RRI, Rabu (5/6/2026) mengatakan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah pendekatan guna meredam ketegangan yang terjadi.

Menurutnya, mediasi melibatkan pihak-pihak yang memiliki hubungan pela dengan kedua desa. Untuk Desa Kalar-Kalar, pendekatan dilakukan melalui masyarakat Batugoyang, sementara Desa Salarem melalui masyarakat Durjela.

"Saya sebagai camat telah melakukan mediasi kepada kedua kelompok pemuda yang bertikai. Kami juga meminta bantuan pihak pela dari masing-masing desa untuk melakukan pendekatan, dan langkah itu sudah berjalan," ujar Goulap.

Ia menjelaskan, selama kurang lebih satu minggu terakhir situasi mulai kondusif. Para pemuda yang bertikai dinilai mulai mendengarkan imbauan para pihak yang melakukan pendekatan sehingga mampu menahan diri dan tidak lagi melakukan penyerangan maupun provokasi.

"Kami bersyukur karena mereka mulai menahan diri dan tidak melakukan aksi saling menyerang lagi," kata Goulap.

Goulap menambahkan, pemerintah masih terus melakukan negosiasi dan sinkronisasi berbagai masukan dari kedua belah pihak sebelum menentukan waktu dan tempat pelaksanaan mediasi perdamaian secara resmi.

"Proses ini masih terus diupayakan. Kami masih menerima berbagai masukan dari kedua pihak melalui para pela mereka. Setelah semua disinkronkan dan disepakati bersama, baru akan ditentukan tanggal serta lokasi pelaksanaan perdamaian," jelasnya.

Terkait wacana penyelesaian secara adat Urlima, Goulap mengatakan masih terdapat perbedaan pandangan dari kedua kelompok. Salah satu pihak menginginkan agar proses perdamaian tidak melibatkan rumah adat Urlima di Durjela maupun para tetua adat dalam skala yang lebih besar.

Awalnya kedua pihak sempat menyetujui keterlibatan para tetua adat Urlima. Namun, belakangan salah satu pihak mengusulkan agar penyelesaian cukup dilakukan melalui jalur pela tanpa melibatkan struktur adat yang lebih luas.

"Mereka beranggapan persoalan ini tidak perlu sampai melibatkan seluruh unsur adat Urlima. Menurut mereka, pendekatan melalui hubungan pela sudah cukup untuk mengingatkan dan mendamaikan para pemuda yang bertikai," ujar Goulap.

Karena itu, pemerintah kecamatan masih terus memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak melalui para pela masing-masing sambil menunggu tercapainya kesepakatan bersama.

Goulap juga mengimbau seluruh pihak untuk tetap menahan diri dan menjaga situasi keamanan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membawa senjata tajam, tidak melakukan provokasi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya karena dapat memicu kembali konflik.

"Kami berharap masyarakat tetap tenang dan memberikan kesempatan kepada pemerintah bersama aparat keamanan untuk mengatur proses perdamaian. Dengan demikian, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat dapat tetap terjaga sehingga aktivitas warga di Kota Dobo dan Kabupaten Kepulauan Aru dapat berjalan normal, aman, dan lancar," tutupnya.(BK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....