Ma'tu Menjadi Instrumen yang Menggabungkan Adat dan Agama

  • 15 Mei 2026 18:56 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Pastor Paroki Bombay Anselmus Amo, MSC beserta perangkat ohoi membentuk ma'tu atau sasi akan beberapa tindakan selama masa prapaskah hingga paskah 2026, sepanjang akhir februari hingga awal april. Namun setelah dilihat hasilnya sangat bermanfaat dan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, atas permintaan pemerintah ohoi, penggunaan sasi tersebut dilanjutkan. kepada rri.co.id, Pastor Amo menjelaskan saksi tindakan ini meliputi pencurian, miras/mabuk-mabukan serta pencurian hasil kebun dan kekerasan.

"Di budaya juga ada unsur sasi, yang juga ada pantang disana, kan itu melarang untuk melakukan sesuatu dalam batas waktu tertentu, seperti orang sasi kelapa misalnya dan saya melihat bahwa ini ada korelasi yang saling terkait, terintegrasi juga dengan pantang dan puasa ini. Setelah dilihat, sepertinya ini ada hal baik yang bisa diangkat. kita rupanya perlu juga untuk membatasi hal-hal tertentu yang biasa terjadi di masyarakat, di dalam arti pantang gitu ya. Kita masukkan dari sisi adatnya budaya itu, ada sasi yang meliputi tiga hal yakni miras dan mabuk-mabukan, pencurian dan judi. Tiga hal ini yang kita sasi," ungkap Pastor Amo.

Pastor Amin menjelaskan, usaha sasi atau matu setelah masa paskah dicabut, namun pemerintah desa (ohoi) Bombai melanjutkan hal tersebut, dengan terus memberlakukan sasi pada beberapa tindakan, yakni miras mabuk-mabukan, pencurian hasil kebun, hingga ke perselingkuhan. Hal ini telah dikoordinasikan dengan pihak gereja maupun tertua adat yang ada di ohoi Bombai.

"Ohoi bombai melanjutkan, begitu lepas dari gereja, memutuskan untuk sasi terkait dengan pencurian hasil hutan, lalu sasi terkait miras mabuk-mabukan, sasi juga terkait dengan perusakan pipa air minum dan ada satu lagi satu terkait dengan perselingkuhan. Dan itu, menurut bapak pejabat ohoi bombai, mengikat juga orang Bombai yang ada di luar, yang tidak tinggal di Bombai," jelas Pastor Amo.

Terkait sanksi yang akan ditanggung, menurut Pastor Amo, semua dikembalikan kepada pengaturan adat yang sudah disepakati bersama warga masyarakat. Diharapkan adanya sasi tindakan ini, dapat lebih meminimalisir dampak negatif yang ada di lingkungan masyarakat, dan lebih bisa menjaga tatanan kehidupan bermasyarakat jadi lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....