SMP Terpadu Negeri 13 Desa Kolaha Rusak dan Butuh Perhatian Pemerintah

  • 20 Apr 2026 03:23 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Tual - Kondisi SMP Terpadu Negeri 13 yang terletak di Desa Kolaha, Kecamatan Sir-Sir, Kabupaten Kepulauan Aru sangat memprihatinkan. Sekolah ini mengalami kerusakan berat yang sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada respon nyata dari pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk perbaikan fasilitas pendidikan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMP Terpadu Negeri 13, Nurbaya Kaimudin, mengungkapkan kondisi sekolah yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, saat ini terdapat lima bilik ruang kelas yang semuanya mengalami kerusakan parah, dengan atap yang bocor dan kondisi bangunan yang sudah sangat tidak layak.

“Saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, kami seringkali harus mencari tempat yang tidak terkena hujan. Kami terpaksa memindahkan siswa ke tempat lain yang sedikit lebih aman, dan kalau hujan semakin deras, kami terpaksa meliburkan siswa atau mengirim mereka pulang”, ujar Kaimudin saat diwawancarai RRI pada Selasa (14/4/2026).

Meski ada beberapa ruang kelas yang masih bisa digunakan, Kaimudin menambahkan, empat bilik kelas lainnya pun kondisinya sudah sangat buruk. Dua ruang kelas masih bisa digunakan meski bocor, sementara untuk kelas 9 dan kelas 7, terpaksa menggunakan ruang laboratorium untuk kegiatan belajar mengajar.

Selain itu, kantor sekolah dan ruang komputer juga mengalami kebocoran. Saat kegiatan Tes Kemampuan Akademik (TKA) berlangsung, pihak sekolah terpaksa menutup bagian-bagian yang bocor agar ruang tersebut bisa digunakan.

Kondisi sekolah yang sudah rusak sejak sekitar 8 tahun lalu itu menjadi semakin parah setelah beberapa tahun tanpa perhatian perbaikan signifikan. Kaimudin mengungkapkan bahwa meski beberapa kali ada rencana bantuan revitalisasi, hingga kini belum ada kejelasan terkait perbaikan tersebut.

“Informasi yang kami terima, kerusakan ini sudah berlangsung sejak masa Kepala Sekolah yang lama. Mungkin baru-baru ini ada gelombang bantuan revitalisasi, tapi kami belum menerima informasi resmi dari dinas terkait”, jelas Kaimudin.

Terkait jumlah siswa, SMP Terpadu Negeri 13 Kolaha saat ini memiliki sekitar 58 siswa yang mengikuti kegiatan belajar meski dengan keterbatasan fasilitas. Meskipun ruang-ruang yang ada tidak memadai, pihak sekolah berusaha keras agar ujian dan kegiatan akademik tetap dapat berjalan lancar.

“Kami memang kekurangan ruang yang layak, tetapi kami mengupayakan agar kegiatan TKA berjalan tanpa hambatan. Beberapa ruang yang bocor pun terpaksa kami tutup agar bisa digunakan saat ujian”, tambahnya.

Kaimudin juga menyoroti kurangnya perhatian dari Kepala Desa dan masyarakat setempat terkait kondisi sekolah. Ia mengungkapkan bahwa meski sudah beberapa kali disampaikan, hingga saat ini belum ada respon dari pihak-pihak terkait.

“Kami sudah berbicara dengan Kepala Desa terkait kondisi ruang belajar, namun untuk perbaikan asrama atau rumah tinggal siswa, yang tinggal di sekitar desa, belum ada langkah konkret”, ujar Kaimudin.

Sebagian besar siswa yang belajar di SMP Terpadu Negeri 13, berasal dari desa-desa sekitar seperti Desa Waifual, Desa Jerwatu, Desa Langhalau dan Desa Wahayum. Anak-anak dari desa-desa tetangga ini pun terpaksa tinggal di rumah warga karena tidak ada fasilitas asrama di sekolah. Hal ini tentu saja menyulitkan proses pengawasan dan bimbingan terhadap siswa di luar jam pelajaran.

“Kami berharap pemerintah dapat membangun asrama untuk menampung siswa dari desa tetangga, sehingga kami bisa lebih mudah memantau mereka dan memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang baik”, harap Kaimudin.

Selain masalah infrastruktur, sekolah ini juga kekurangan tenaga pengajar, terutama dalam mata pelajaran PPKN, PJOK, IPS dan beberapa mata pelajaran lainnya. Meski demikian, Kaimudin dan para guru berusaha sebaik mungkin dengan mengatur jam pelajaran agar semua mata pelajaran tetap diajarkan, meskipun dengan jumlah guru yang terbatas.

Harapan besar pun disampaikan oleh Nurbaya Kaimudin agar pemerintah daerah, dinas pendidikan, serta masyarakat setempat dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi sekolah ini.

“Kami berharap agar fasilitas pendidikan di sini segera diperbaiki, agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan mendapatkan pendidikan yang layak”, pungkasnya.

Masyarakat setempat, khususnya para orang tua siswa, juga berharap agar kondisi ini segera mendapat perhatian dari pemerintah demi masa depan pendidikan anak-anak mereka yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....