RD Korsan Rahaded: Puasa Sejati Membawa Sukacita dan Jalan Kebaikan

  • 21 Feb 2026 14:54 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Tual : Misa Jumat Pertama sebagai pembukaan masa puasa dan pantang bagi umat Katolik, digelar di gereja stasi St. Yosep Dobo pada Jumat (20/02/2026) pukul 17.00 WIT. Perayaan diawali dengan ibadat Jalan Salib dan dilanjutkan misa kudus yang dipimpin oleh RD Korsan Rahaded.

Dalam khotbahnya, RD Korsan Rahaded menyampaikan bahwa para murid tetap bersama Yesus ketika tidak berpuasa, namun akan tiba saatnya sang guru diambil dari mereka, dan pada saat itulah mereka berpuasa. Ia menegaskan bahwa puasa hendaknya dijalani dengan sukacita sebagai wujud kerinduan untuk semakin menyatu dengan Tuhan.

Rahaded menjelaskan, terdapat dua hal penting yang dapat direfleksikan dari bacaan kitab suci hari itu. Pertama, puasa sebagai ungkapan cinta yang lahir dari kerinduan akan kehadiran Allah, bukan sekadar rutinitas atau kewajiban rohani.

Menurutnya, ketika manusia menyadari kelemahan, dosa, dan keterbatasannya, puasa menjadi jalan untuk kembali mendekat kepada Tuhan. Puasa adalah pernyataan kasih yang mengarahkan hati agar semakin serupa dengan hati Kristus.

“Jika kita merasa di hadapan Tuhan, hidup kita penuh dengan sukacita, namun ketika kita mengenali jalan, kemauan, dan dosa kita, puasa menjadi jawaban untuk kembali dari kita”, kata RD Rahaded.

Ia juga mengajak umat untuk bertanya pada diri sendiri, apakah puasa yang dijalani sungguh lahir dari kerinduan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Refleksi ini penting agar praktik puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah semata.

Kedua, Rahaded menekankan bahwa puasa sejati membentuk sikap hidup yang membahagiakan dan membawa kebaikan. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga melatih pengendalian diri atas amarah, hawa nafsu, dan berbagai keinginan yang menjauhkan manusia dari kasih.

“Puasa yang membahagiakan sikap. Tuhan Yesus mengajak para murid untuk melihat makna puasa secara lebih mendalam, yaitu puasa sejati membawa jalan kebaikan, lebih besar, lebih sederhana, dan lebih siap. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan tidur, amarah, dan keinginan untuk selalu diperbaharui”, kata RD Rahaded pula.

Puasa, lanjutnya, merupakan latihan hati agar semakin peka terhadap Tuhan dan sesama. Inilah puasa yang dikehendaki Tuhan, yakni puasa yang lahir dari kasih serta kesediaan untuk berkorban.

Lebih lanjut disampaikan bahwa masa prapaskah menjadi kesempatan bagi umat untuk merenungkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Masa ini bukan sekadar rangkaian ritual, melainkan jalan untuk memperdalam cinta dan kesetiaan kepada Tuhan melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari.

Ia berharap, melalui masa puasa ini, umat semakin membuka hati bagi kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap bentuk puasa yang dijalani menjadi persembahan kasih yang meneduhkan, memerdekakan, dan meneguhkan iman kepada Tuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....