Demam Piala Dunia 2026 di Kepulauan Kei, 'Ibu Dapur' Menyatu dalam pawai kebersamaan

  • 26 Jun 2026 14:33 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID .Langgur_: Gemuruh turnamen sepak bola terakbar sejagat, Piala Dunia 2026, tidak hanya menggema di stadion-stadion megah negara penyelenggara. Ribuan kilometer dari sana, atmosfer pesta bola itu terasa begitu kuat, dan meriah di ujung tenggara Kepulauan Maluku, tepatnya di Kepulauan Kei yang meliputi Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.

Piala Dunia kali ini benar-benar menjelma menjadi pesta rakyat yang menembus sekat usia dan gender. Jika dahulu urusan taktik dan obrolan si kulit bundar didominasi oleh kaum pria dewasa dan pemuda, tahun 2026 ini ceritanya berbeda. Demam bola telah merambah ke anak-anak, remaja perempuan, hingga kaum ibu yang akrab disapa "ibu dapur".

Meriahnya pesta bola empat tahunan ini diakui langsung oleh Ahmad, seorang pedagang atribut Piala Dunia di Pasar Langgur. Lapaknya tak pernah sepi dari pemburu jersi.

Menurut Ahmad, penjualan atribut tahun ini melonjak tajam.

Uniknya, pembeli tidak hanya berburu jersi ukuran dewasa, melainkan juga ukuran anak-anak.

Berdasarkan data penjualannya, jersi tim-tim raksasa seperti Brasil, Argentina, Belanda, Spain, dan Portugal menjadi yang paling laris manis diborong warga yang ingin menunjukkan totalitas dukungan kepada tim kesayangan mereka.

Fenomena unik ini juga dirasakan betul oleh Leonard Kameubun, seorang fans berat tim nasional Brasil. Leonard menceritakan bahwa Piala Dunia 2026 memiliki atmosfer yang jauh lebih hidup dan berbeda dibandingkan edisi empat tahun lalu.

"Sekarang semua ikut berpesta. Anak muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, sampai ibu-ibu dapur pun tidak mau ketinggalan membeli kostum tim kesayangan mereka," ujar Leonard penuh semangat.

Bagi Leonard, esensi sejati dari Piala Dunia di Kepulauan Kei adalah tentang indahnya kebersamaan. Hal ini paling nampak ketika momen pawai kemenangan tiba. Begitu tim idola menang, para pendukung misalnya fans tim Brasil akan langsung tumpah ke jalan dengan segala atribut kuning-hijaunya. Mereka berkendara, mencari sesama fans, lalu menggelar pawai keliling melintasi batas wilayah Kota Tual hingga ke Langgur di Maluku Tenggara.

"Dalam kebersamaan itu, meskipun kami saling tidak mengenal, asalkan menggunakan atribut yang sama, kami langsung saling menyapa hangat tanpa memandang latar belakang. Warga Maluku Tenggara dan Kota Tual menyatu dalam satu rute, meluapkan kegembiraan bersama. Sungguh pemandangan yang sangat indah," kata Leonard.

Sisi paling unik dari Piala Dunia 2026 di Kei adalah keterlibatan aktif kaum perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga. Di sela-sela kesibukan kuarga , jalannya pertandingan demi pertandingan kini menjadi menu wajib yang mereka komentari.

Sambil mengagungkan pemain idola, para ibu dapur ini tampil sebagai "pengamat bola dadakan". Leonard menceritakan, meski sebagian besar dari mereka tidak terlalu paham regulasi mendalam tentang sepak bola, urusan membela tim kesayangan adalah harga mati.

"Jangan coba-coba merendahkan idola mereka. Biarpun lawan bicaranya paham taktik, ibu-ibu dapur ini tidak akan mau mengalah dan pasti menantang balik dengan komentar yang membuat mereka menang. Bahkan sampai baku marah , cerita Leonard sambil tertawa. .

Keseruan ini makin meruncing di jagat maya. Di media sosial, aksi saling tantang dan adu argumen antar-fans begitu ramai. Seseorang yang tidak saling kenal bisa langsung bergabung ke dalam kolom komentar dan melayangkan "serangan balik" demi membela harkat dan martabat timnas idola yang sedang direndahkan.

Di balik euforia dan kegembiraan yang meluap-luap tersebut, Leonard Kameubun menyelipkan sebuah pesan bijak yang sangat penting bagi seluruh masyarakat di Kepulauan Kei.

Ia mengingatkan bahwa mencintai tim sepak bola dan merayakan kemenangan dengan berpawai adalah hal yang sah-sah saja. Namun, keselamatan diri dan pengguna jalan lain harus tetap menjadi prioritas utama. Jangan sampai kegembiraan sesaat berubah menjadi duka akibat kelalaian atau ugal-ugalan saat konvoi di jalan raya.

"Kita boleh bangga dan bergembira saat fans kita menang dan kita melakukan pawai. Namun, satu hal yang harus kita perhatikan bersama adalah keselamatan diri saat pawai agar tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak kita inginkan," imbau Leonard dengan penuh harap.

Piala Dunia 2026 di Kepulauan Kei pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang mengangkat trofi berlapis emas di laga final nanti. Di bumi Larvul Ngabal ini, Piala Dunia telah sukses menjadi perekat sosial yang membawa tawa, warna-warni jersi, debat para ibu, dan indahnya rasa kebersamaan yang tulus antarpenduduk kota dan kabupaten.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....