Tiga Syarat Bagi Seseorang Untuk Kembali Bertaubat
- 29 Nov 2025 13:39 WIB
- Tual
KBRN, langgur : Al- ustadz Abdurrahman Reliubun, S.H.I, saat berkhutbah sholat Jum'at di masjid Al-Ikhlas Islamic Center kota Tual (21/11/2025). Mengatakan, seseorang bisa kembali lagi ke jalan yang benar atau bertaubat, setidaknya, jika memenuhi tiga syarat, dintaranya :
Pertama, mengetahui dan meyakini bahwa dirinya telah menempuh jalan yang salah atau tersesat, baik tahu dari dirinya sendiri atau diberitahu orang lain. Seseorang bisa melakukan taubat jika dia mengetahui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan salah atau dosa. Jika seseorang tidak mengetahui kesalahannya, mustahil dia bisa kembali ke jalan yang benar. Dia akan terus berkubang dalam dosa dan kesesatannya.
"Kesadaran bahwa seseorang telah berbuat salah ditunjukkan oleh hatinya melalui penyesalan, dan ditunjukkan oleh lisannya dengan mengucapkan kalimat istighfar." papar Ust. Reliubun
Sebagaimana penyesalan dan istighfar Nabi Adam
*alaihissalam dan isterinya ketika melanggar larangan Allah ta'ala:
قَالَا رَبّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَتَكُوتَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Adam dan Hawa berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Q.5. Al A'raf : 23).
Untuk itu dibutuhkan ilmu bagi seorang Muslim untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah supaya dirinya bisa bertaubat. Selain itu, juga dibutuhkan kerendahan hati yang mendorong dirinya bersedia bertaubat setelah melakukan kesalahan. Dalam sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu
*anhu, beliau mengajarkan untuk melantunkan doa :
ٱللَّهُمَ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَاتَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين
" Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya." Jamaah shalat jum'at rahimakumullah,
Kedua, bersedia memutar arah, kembali meniti jalan yang benar. Taubat bisa diwujudkan dalam diri seseorang jika dia, dengan rendah hati, bersedia berjalan kembali ke arah yang benar. Memang taubat akan selalu menemui halangan dan hambatan. Bisa jadi, cibiran dan cemoohan masyarakat hadir menyertai perjalanan taubatnya. Bahkan yang lebih menyakitkan, lingkungan baru yang ingin dia masuki, terkadang menunjukkan sikap penolakan. Semua itu harus dilalui bagi orang yang hendak sungguh-sungguh bertaubat.
Itulah yang dialami Nabi Adam 'alaihissalam ketika berjalan menuju taubatnya; dibuang dari surga, berjalan tertatih-tatih di dunia dan terpisah dari isteri tercinta.
Sampai akhirnya Allah-pun menerima taubatnya :
قَالَ اهْبِطًا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإمَّا يَأْتَيَّكُمْ مِنِّي هُدى فَمَنِ
اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَاَ يَصِلُّ وَلاَ يَشْقَى
Allah berfirman kepada Adam dan Hawa: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
(Q.S.Thaha: 123)
Ketiga, mengetahui jalan yang benar untuk melanjutkan perjalanan dan berhati-hati terhadap godaan. Seseorang yang sudah bertaubat sekalipun tidak serta merta terbebas menjalani hidup tanpa godaan. Iblis, bersama hawa nafsu, tidak akan pernah berhenti menggoda supaya kita kembali menjalani perbuatan dosa dan kesalahan, sebagaimana yang dulu pernah dilakukan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata'ala mengingatkan hamba-Nya untuk selalu berhati-hati, jangan sampai kembali tergoda melakukan dosa yang sama.
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Q.S. Ali Imran: 135)
Betapa mulia sikap seorang Muslim yang berani bertaubat, yaitu berani kembali ke jalan yang benar dengan menghadapi semua rintangan dan hambatannya. Wajarlah jika Allah subhanahu wata'ala memuliakan orang yang bertaubat. → langsung ke achir
Diakhir khutbahnya, Ust. Abdurrahman Reliubun mengatakan bahwa sebenarnya, tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tidak boleh ada keengganan bagi seseorang untuk bertaubat dengan alasan apa pun, seperti sudah terlanjur banyak dosa,
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....