Buah Beracun Pohon Raja, Olahan Pangan Lokal Kei

  • 05 Mar 2024 13:49 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Di Kepulauan Kei, selain ketela pohon beracun yang diolah masyarakat setempat menjadi berbagai sajian makanan khas seperti enbal love, pisang sianida dan lain-lain, maka ada juga olahan dari buah beracun yakni tanaman pohon palem (pohon raja) yang diolah masyarakat desa Tanimbar Kei, kecamatan Kei Kecil Barat kabupaten Maluku Tenggara menjadi menu andalan.

Memang Indonesia kaya akan berbagai macam jenis tumbuh- tumbuhan baik itu di pesisir pantai maupun di hutan. Dan banyak masyarakat memanfaatkan limpahan sumber daya alam ini, termasuk mengolah tanaman yang beracun menjadi berbagai macam makanan khas.

Pohon palem atau dalam bahasa setempat menyebutnya (mayel) ini adalah, salah satu jenis tumbuhan yang mampu hidup di berbagai kawasan. Tanaman palem bisa tumbuh baik pada berbagai karakteristik tanah, mulai tanah subur hingga gersang sekalipun. Sebaran pohon palem juga sangat luas dan dapat di temukan di daerah tropis serta subtropis.

Ciri dari tanaman ini adalah, tidak bercabang, tidak beruas, dan tumbuh tegak ke atas. Batang palem biasanya tumbuh sebagai batang tunggal mirip seperti pohon kelapa serta memiliki buah yang berangkai seperti pinang dan jika buahnya sudah matang maka akan berwarna merah.

Nah dari buahnya ini dapat diolah berbagai jenis makanan khas masyarakat setempat.

Buah dari pohon palem ini setelah dibelah maka akan dipisahkan dari cangkangnya seperti proses mencungkil buah kolang kaling,dan setelah proses tadi maka buah tersebut akan di peram di air laut hingga tiga sampai empat hari kedepan dan selanjutnya akan di peram lagi menggunakan air tawar yakni tiga hingga empat hari, dengan memperhatikan airnya harus rutin di ganti setiap harinya.

“Ini buah kelapa raja, penyebutan kami disini itu mayel. Mayel sebelum di olah, pertama tuh mayel di ambil dulu terus di belah selanjutnya mayelnya di rendam dulu pada air laut kira-kira empat hari dan selanjutnya masih juga di rendam lagi dengan air tawar sampai empat hari, ini lantaran kadar racun pada buah mayel ini tinggi beda di daerah-daerah lain,’’ kata salah satu warga desa Tanimbar Kei Ibu Erie Tabalubun menjelaskan, ketika ditanya rri.co.id.

Selanjutnya buah-buah tersebut akan dijemur dan ditumbuk, diayak kemudian akan diolah menjadi berbagai makanan baik itu dijadikan bubur, cemilan, atau olahan yang dikukus maupun digoreng.

Bubur Mayel, salah satu olahan lain pohon raja beracun di kepulauan Kei. (Foto: RRI/Ona Rahawarin).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....