Kemendukbangga Ingatkan Ancaman Generasi “Strawberry” di tengah Bonus Demografi

  • 30 Jul 2026 13:13 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Indonesia tengah bersiap menyambut bonus demografi, sebuah periode ketika jumlah penduduk usia produktif mencapai puncaknya. Namun di balik peluang besar itu, tersimpan kekhawatiran tentang kualitas generasi yang akan mengisi masa depan bangsa, Kamis (30/7/2026).

Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, menilai bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika diiringi lahirnya sumber daya manusia yang tangguh, berkarakter, dan memiliki daya saing.

Dalam Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Aula Kantor Bupati, Langgur, Selasa 28 Juli 2026, Edi menyoroti meningkatnya fenomena keluarga yang kehilangan peran ayah dalam pengasuhan atau dikenal dengan istilah fatherless.

Menurutnya, anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah berisiko kehilangan sejumlah nilai penting yang dibutuhkan dalam kehidupan. Mulai dari ketangguhan, disiplin, hingga kemampuan menghadapi tekanan dan kegagalan.

“Kalau yang tumbuh generasinya dari keluarga yang fatherless, apakah benar-benar mereka akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas?” katanya.

Edi kemudian mengibaratkan kondisi tersebut dengan istilah “generasi strawberry”. Dari luar terlihat menarik dan menjanjikan, tetapi rapuh ketika menghadapi tantangan.

“Strawberry itu kelihatannya indah dan bagus di luar, tapi ternyata rapuh di dalam. Kita pencet sedikit saja, dia akan rusak,” ujarnya.

Ia menegaskan Indonesia Emas 2045 tidak boleh diisi oleh generasi yang mudah menyerah dan tidak memiliki daya juang. Sebab, pada masa mendatang, bangsa Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain dalam berbagai bidang.

Karena itu, Edi mengajak para ayah untuk kembali mengambil peran aktif dalam keluarga. Pengasuhan yang ideal adalah pengasuhan kolaboratif yang melibatkan ayah dan ibu secara bersama-sama.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) lahir dari kesadaran bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dilakukan melalui sekolah, program pemerintah, atau pembangunan fisik. Masa depan Indonesia juga ditentukan oleh kualitas hubungan yang terbangun di dalam keluarga.

“Karena itulah kami mengetuk hati para ayah di Indonesia untuk kembali ke dalam keluarga,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....