Butterfly Effect Seorang Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak
- 29 Jul 2026 15:58 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Kehadiran seorang ayah di sisi anak sering kali terlihat sebagai hal sederhana. Namun, perhatian yang diberikan secara konsisten dapat menciptakan efek berantai atau butterfly effect yang membentuk karakter, kesehatan, dan masa depan anak hingga dewasa.
Pandangan itu mengemuka dalam Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang digelar di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur, Selasa (28/7/2026). Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mendorong para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam pengasuhan sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berkualitas.
Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam mengatakan, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan fisik anak. Kehadiran orang tua, khususnya ayah, juga berperan penting dalam membentuk karakter, memberikan rasa aman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
"Kita ingin mendobrak stigma lama bahwa mengasuh anak hanya tugas seorang ibu," kata Viali.
Menurut Viali, masih banyak keluarga yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah. Padahal, anak membutuhkan figur ayah yang hadir dalam kesehariannya, baik saat belajar, bermain, maupun menghadapi berbagai tantangan dalam proses tumbuh kembang.
Melalui Program GATI, pemerintah mengajak para ayah untuk mengambil peran lebih besar dalam kehidupan anak. Kehadiran itu dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana seperti mengantar anak ke sekolah, mendampingi belajar, menghadiri kegiatan sekolah, atau sekadar meluangkan waktu untuk berbincang dan mendengarkan cerita mereka.
Viali mengibaratkan keterlibatan ayah sebagai sebuah butterfly effect. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memunculkan dampak besar yang mungkin tidak langsung terlihat, tetapi akan dirasakan anak dalam jangka panjang.
“Ada satu istilah namanya butterfly effect. Jadi setiap perubahan kecil yang kita lakukan itu membuahkan hasil yang besar di masa depan. Perubahan kecil itu, antar anak ke sekolah, bermain dengan anak di rumah, karena bukan tugas ibu seorang tapi itu juga tugas bapak,” ujar Viali.
Anak yang tumbuh dengan dukungan kedua orang tua cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kemampuan bersosialisasi yang lebih kuat, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, keterlibatan ayah tidak boleh dipandang sebagai pelengkap, melainkan kebutuhan dalam proses pengasuhan.
“Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan nilai-nilai kehidupan. Apa yang dilakukan orang tua di rumah akan menjadi fondasi yang membentuk cara anak memandang dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya,” ucap Viali.
Viali menegaskan, perubahan pola pengasuhan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Aparatur pemerintah diharapkan dapat menjadi contoh dalam membangun keluarga yang lebih harmonis dan melibatkan ayah secara aktif dalam pengasuhan.
Diharapkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) tidak hanya menjadi kegiatan sosialisasi, tetapi mampu melahirkan kesadaran baru di tengah masyarakat. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan seorang ayah setiap hari, masa depan generasi berikutnya perlahan dibentuk.
“Keterlibatan ayah bukan sekadar urusan rumah tangga. Kehadiran ayah yang aktif dalam pengasuhan juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan pembangunan di masa depan,” kata Viali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....