Jebakan Doomscrolling: Alasan Sulit Berhenti Baca Berita Buruk dan Cara Mengatasi

  • 21 Jul 2026 14:06 WIB
  •  Tual

RRI.co.id, Langgur - Pernahkah Anda berniat membuka media sosial hanya untuk memeriksa pesan singkat, tetapi berakhir mengusap layar ponsel berjam-jam sembari membaca barisan berita buruk? Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus meskipun hal tersebut memicu perasaan cemas dan lelah secara mental. Di era banjir informasi seperti saat ini, kebiasaan buruk ini tanpa sadar telah menjebak banyak orang dalam lingkaran kecemasan digital yang menguras energi.

Secara psikologis, dorongan untuk terus membaca kabar buruk sebenarnya berakar dari mekanisme pertahanan diri alami manusia yang disebut negativity bias. Otak manusia secara evolusioner dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman demi bertahan hidup. Ketika melihat kabar bahaya atau krisis di media sosial, otak merasa perlu untuk terus menggali informasi lebih dalam agar merasa siap menghadapi kemungkinan terburuk, meskipun informasi berlebih tersebut justru berbalik menjadi pemicu stres berlebihan.

Dampak dari doomscrolling tidak bisa dianggap sepele karena dapat merusak kualitas hidup sehari-hari. Paparan berita negatif berulang kali memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin, yang membuat tubuh berada dalam kondisi siaga secara terus-menerus. Akibatnya, seseorang bisa mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga munculnya perasaan tidak berdaya (helplessness) terhadap kondisi dunia di sekitarnya.

Untuk memutus rantai kecemasan ini, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membangun kesadaran penuh saat memegang ponsel. Menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial atau menggunakan fitur pengingat durasi aplikasi dapat membantu menarik diri sebelum terjebak lebih jauh. Selain itu, mengganti kebiasaan mengusap layar di malam hari dengan aktivitas fisik ringan, membaca buku, atau sekadar berbincang dengan keluarga terbukti efektif mengalihkan perhatian otak dari stimulasi negatif.

Mengendalikan konsumsi informasi bukan berarti kita bersikap apatis terhadap situasi dunia, melainkan bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental diri sendiri. Dengan membatasi asupan berita buruk dan memprioritaskan konten yang membangun, pikiran akan menjadi lebih tenang dan jernih. Pada akhirnya, menjaga kedamaian pikiran adalah modal utama agar kita bisa berpikir rasional dan memberikan kontribusi positif yang nyata bagi lingkungan sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....