Maknai HGN Pendidik SLB Langgur Harap Tidak Dilupakan
- 25 Nov 2025 04:42 WIB
- Tual
KBRN, Langgur: Pemahaman keliru yang masih ditujukan kepada Sekolah Luar Biasa (SLB), menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik yang bertugas di wadah tersebut. Penilaian bahwa SLB adalah sekolah yang menampung murid-murid tidak waras dan susah dibina, menjadi keprihatinan tersendiri bagi para guru SLB.
Salah satu pendidik di Sekolah Luar Biasa Langgur Maluku Tenggara, Fega Rahanubun mengatakan, kehadiran wadah tersebut untuk menyatakan hakikatnya manusia sebagai insan yang patut mendapatkan hak yang sama dengan manusia lainnya. Dikatakan, dalam mengemban tugas, para pengajar SLB semakin menyadari bahwa memberikan kasih sayang, adalah bagian istimewa dari mencerdaskan anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kebanyakan orang memiliki pemahaman bahwa SLB itu adalah sekolah yang identik dengan sekolah orang tidak waras dan lain sebagainya, tapi ketika saya masuk di sini, saya melihat bahwa SLB ini merupakan tempat di mana kita sebagai manusia, kita evaluasi diri, kita sebagai manusia harus beryukur bahwa kita beruntung diberikan kesempurnaan fisik, mental dan lain sebagainya”, kata Rahanubun.
Rahanubun mengungkapkan keprihatinannya terhadap pemahaman keliru pada SLB, bahkan tersentuh dengan sikap sebagian kalangan yang apatis bahkan terkesan lupa pada sekolah ini. Tantangan dan kendala tersebut, tidak menurunkan semangat para guru SLB Negeri Maluku Tenggara, untuk terus memenuhi kebutuhan belajar anak-anak berkebutuhan khusus, yang membutuhkan kesabaran dan ketulusan teramat dalam untuk mendidik mereka.
“Sejauh ini suasananya berjalan lancar, namun bila melihat kondisi anak-anak dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang memiliki keterbatasan yang dimiliki, di mana pada sekolah regular, sejak tiba di sekolah, anak-anak hanya siap untuk menerima pelajaran, namun proses di SLB cukup panjang dan tidak gampang”, kata Rahanubun pula.
Sementara itu, keterpanggilan untuk menjadi pengajar di SLB, membuat Minahaji Yaurbulan terus mengabdi di SLB Negeri Langgur selama 5 tahun. Diakui, mengabdi dengan berbagai tantangan yang dihadapi, merupakan faktor penting yang wajar bila tidak dikeluhkan, namun kegigihan tekad untuk memberikan pengetahuan dan pengajaran kepada anak-anak, membuatnya eksis hingga saat ini.
“Kita lebih melihat anak-anak, jadi kalau kita lepas, nanti siapa lagi yang melihat mereka. Jadi kami minta kepada semua pihak, setidaknya lihat SLB itu lebih bagus sedikitlah, jangan terus menganggap bahwa anak-anak ini tidak berguna, jadi tidak perlu melihat sekolah ini, padahal anak-anak ini juga warga bangsa”, kata Yaurbulan.
Guru SLB lainnya, Rosalia Kabrahanubun mengharapkan semua pihak lebih memperhatikan Sekolah Luar Biasa, sekaligus melibatkan sekolah ini dalam berbagai event, agar anak-anak bangsa yang dinilai sejumlah kalangan tidak berdayaguna, dapat membuktikan kemampuannya.
“Masyarakat hendaknya mengenal dan melihat lebih dekat lagi SLB Negeri Langgur, karena kita juga anak Maluku Tenggara, jadi bila ada kegiatan seperti karnaval dan lain-lain, kalau bisa kami juga dilibatkan”, kata Kabrahanubun.
Khusus di momen HUT PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2025, para guru SLB Negeri Maluku Tenggara yang rata-rata berstatus honorer meminta semua pihak untuk melihat wadah ini sebagai sarana pendidikan layaknya sekolah-sekolah yang lain, sehingga kepercayaan diri dapat ditingkatkan, tanpa merasa diabaikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....