Dari Ngilngof untuk Tanah Kei: Jejak Iman yang Melahirkan Tokoh-Tokoh Gereja

  • 10 Agt 2026 11:56 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur – Di tengah sukacita Misa Perdana Pastor Belly Yoakhim Resubun, MSC, ada satu pesan yang mengemuka dari sambutan Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun yang dibacakan Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam. Bukan sekadar tentang seorang imam baru, tetapi tentang sebuah kampung yang telah menorehkan jejak panjang dalam sejarah Gereja Katolik di Kepulauan Kei.

Ohoi Ngilngof bukanlah nama yang asing dalam perjalanan perkembangan iman Katolik di Maluku Tenggara. Ohoi ini memiliki peran penting dalam membangun fondasi kehidupan bergereja, bahkan melahirkan tokoh-tokoh yang memberi pengaruh besar bagi Gereja Katolik di kawasan timur Indonesia.

Dalam sambutannya, Bupati Thaher mengingatkan bahwa sejarah Ngilngof tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Gereja Katolik di Tanah Kei. Bersama Ohoingur yang dikenal sebagai salah satu pusat awal perkembangan iman Katolik, Ngilngof menjadi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana ajaran Katolik tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat Kei.

“Kedudukan Ohoi Ngilngof dalam sejarah Gereja Katolik di Tanah Kei memiliki peran yang sangat kuat selain Ohoingur sebagai pusat perkembangan iman Katolik,” demikian sambutan Bupati yang dibacakan Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam.

Tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan iman, Ngilngof juga dikenal melahirkan sejumlah tokoh gereja yang berperan dalam penyebaran ajaran Katolik. Dari kampung ini lahir guru-guru Katolik generasi awal yang turut menjalankan misi pelayanan hingga ke Tanah Papua. Kiprah mereka menjadi bukti kontribusi masyarakat Ngilngof melampaui batas wilayah Kei.

Nama besar lainnya yang lahir dari Ngilngof adalah Uskup Joseph Tethool, MSC, yang tercatat sebagai uskup pribumi pertama asal Maluku. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam sejarah Gereja Katolik sekaligus kebanggaan masyarakat Kei yang berhasil melahirkan pemimpin gereja di tingkat yang lebih tinggi.

Namun bagi Thaher, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada cerita masa lalu. Ia mengingatkan generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan iman yang telah dibangun dengan pengorbanan para pendahulu.

Dalam sambutannya, Bupati juga menyinggung kisah keteguhan umat Ngilngof dalam mempertahankan iman Katolik pada masa-masa sulit. Kisah penyelamatan Pastor Bedoux dan Pastor Van Lith menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang menunjukkan bagaimana iman, keberanian, dan solidaritas dijaga di tengah berbagai tantangan.

Menurut Thaher, nilai-nilai itulah yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Di tengah perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan berbagai tantangan sosial, masyarakat Ngilngof diharapkan tetap menjaga identitasnya sebagai komunitas yang memiliki akar sejarah dan spiritualitas yang kuat.

“Orang-orang tua Ngilngof telah menunjukkan jalan iman yang kuat dan perlu diteladani oleh generasi sekarang,” pesan Bupati dalam sambutan yang dibacakan Wakil Bupati.

Momentum Misa Perdana Pastor Belly Yoakhim Resubun, MSC pun menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Peristiwa itu menjadi ruang untuk mengingat kembali perjalanan panjang sebuah kampung yang telah memberi warna dalam sejarah Gereja Katolik di Tanah Kei, sekaligus menegaskan warisan iman akan tetap hidup selama terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....