Peran Pemuda Berkiprah pada Sektor Agraris
- 30 Jul 2026 13:24 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Kepala Dinas Pertanian Maluku Tenggara Joseph A. Dumatubun, mengemukakan Peran Generasi Muda Dalam Pembangunan Pertanian sangatlah penting untuk meningkatkan pertanian di Indonesia, telah kita ketahui bahwa pertanian di Indonesia saat ini sedang mengalami penuaan ,oleh karena itu dia mendorong anak muda bagaimana agar tertarik dengan sektor pertanian khususnya di Kepulauan Kei.
“Anak muda harus ada motivasi pada sektor pembangunan pertanian ,supaya anak muda bisa menjadi motor penggerak pertanian di Indonesia,' ucap Dumatubun
Lanjut Dumatubun, saat ini pemuda Indonesia banyak yang mengambil jurusan di bidang lain ,para pemuda sekarang tidak begitu tertarik dengan jurusan pertanian,karna pemuda sekarang berfikir bahwa pertanian identik dengan pekerja kasar dan kemiskinan .
"Karna jurusan lain yang di anggap lebih bergengsi dan menjajikan masa depannya,sehingga jurusan lainlah yang banyak di minati oleh para pemuda sekarang .Padahal negara kita ini memiliki tanah yang subur dan luas sehingga kita dapat memanfaatkan nya supaya lebih bagus dari yang sekarang ini," ujarnya.
Dia mengkhawatirkan jangan sampai negara kita mengimpor beras dari negara lain,oleh karena itu peran pemuda dalam pengembangan pertanian sangat berpengaruh sekali dalam upaya peningkatan taraf rakyat desa yang sebagaian pekerjaannya sebagai petani juga sangat berpengaruh.
Peran pemuda juga sangat berpengaruh dalam penyebaran informasi bagi para petani. Selain itu pemuda juga harus dibekali cara-cara pertanian yang baik dan benar, sehingga sewaktu-waktu mereka dibutuhkan, mereka telah siap.
Dumatubun, mengatakan Kedaulatan pangan lewat sektor pertanian adalah hak suatu bangsa untuk mengatur kebijakan pangan dan sistem produksinya secara mandiri, dengan fokus pada peningkatan produksi lokal, perlindungan petani, serta pemanfaatan teknologi. Hal ini menempatkan petani sebagai pelaku utama demi mencukupi kebutuhan gizi masyarakat tanpa bergantung pada pasar internasional.
"Kemudian untuk transformasi kelompok tani tradisional menjadi agrobisnis modern menuntut pergeseran pola pikir dari sekadar "bercocok tanam untuk menghasilkan" menjadi "mengelola usaha dari hulu hingga hilir demi keuntungan". Perubahan ini mengubah posisi petani dari pekerja biasa menjadi pengusaha mandiri yang melek pasar," tambah Dumatubun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....