Melestarikan Pengrajin Tampah di Desa Ohoiren-Kepulauan Kei

  • 26 Okt 2023 07:41 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Tampah, penampi, atau nyiru sebutannya bagi masyarakat kei, adalah alat yang digunakan untuk menampi, yaitu membersihkan beras dari sekam atau bulir serealia lainnya dari kulitnya. Nyiru umumnya berupa nampan/baki bulat berukuran besar (berdiameter kira-kira 65–80 cm) yang terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu.

Menampi beras dengan tampah atau nyiru, umumnya dilakukan untuk membersihkan beras dari kotoran-kotoran sebelum dicuci dan dimasak. Menampi dengan tampah dapat dilakukan dengan cara mengayak secara manual tangan, kemudian kotoran akan otomatis tersisih.

Kali ini kita akan melihat usaha warga desa Ohoiren, kecamatan kei kecil barat, mempertahankan kearifan lokal pembuatan tampah bambu atau sering disebut nyiru yang mulai kehilangan para pembuatnya.

Kami mengunjungi ibu susi rahayaan, salah satu dari dua pembuat tampah atau nyiru asal desa ohoiren. Dimana pembuatan tampah atau nyiru ini, sudah dipelajari sejak usia sekolah dasar. Menurut keterangan Ibu Susi, nyiru biasanya dibuat dengan warna asli dari bambu itu sendiri, tetapi ada pula proses pewarnaan bagi bahan baku bambu, untuk membuat tampah atau nyiru ini lebih berwarna dan tidak seperti biasanya. Prosesnya sendiri membutuhkan waktu untuk merendam di dalam cairan tertentu, dan membuat warna pada bambu yang digunakan menjadi lebih tahan lama dan pekat.

"Nyiru ini sudah saya pelajari sejak masih SD biasanya kami membuatnya dari bambu dan ini diajarkan turun temurun di dalam keluarga. Kalau ditanya soal pewarnaan nyiru ini sendiri biasanya kami menggunakan cairan tertentu untuk memberi warna kepada bambu yang sudah kami bentuk menjadi nyiru agar warna pada nyiru ini sini bertahan lama."

Sementara itu saat ditanyakan terkait dengan dampak lingkungan yang dapat terjadi dalam pemanfaatan bahan baku tampah atau nyiru ini sendiri Ibu Susi menegaskan sempat memikirkan hal tersebut dan menggunakan cara di mana dirinya dan pembuat sampah lainnya tidak merusak habitat pohon bambu dan akan membuat pohon bambu terus bertumbuh setiap tahunnya.

"Kalau untuk bahan baku kami memang mengambil dari hutan bambu yang ada di sekitar desa kami, tetapi kami mengambilnya tidak serta-merta merusak hutan bambu tersebut, kami mengambilnya sesuai dengan kebutuhan dan juga sudah diprediksi untuk tidak merusak habitat hutan bambu itu sendiri, jadi regenerasi pertumbuhan hutan bambu itu terus akan berlangsung, tanpa merusak habitatnya dengan diambil sebagai bahan baku nyiru oleh kami."

Sebagai salah satu pembuat tampah atau nyiru di desanya, Ibu Susi mengaku perhatian dari pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara maupun pemerintah desa Ohoiren, tidak terlalu maksimal. Maka hingga saat ini, dirinya melakukan usaha secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar, untuk memproduksi dan terus melestarikan pembuatan tampah sebagai salah satu hasil dari kearifan lokal di kei.

"Pembuatan nyiru ini sendiri kan termasuk mulai langka saat ini maka kami meminta agar pemerintah daerah maupun pemerintah Desa bisa membantu kami agar produksi nyiru yang kami buat ini dapat berdampak ekonomi dan pembuatan nyiru sebagai salah satu hasil dari kearifan lokal di kei ini tetap terjaga."

Selain untuk menampi beras, nyiru atau tampah ini juga berguna untuk menaruh jajanan kudapan yang biasa disebut kue tampah, bagi masyarakat Indonesia. Tampah atau nyiru juga digunakan sebagai tempat alas untuk tumpeng dan juga untuk menjemur kerupuk. Tampah masih banyak digunakan oleh masayarakat Indonesia tak terkecuali warga kei, karena merupakan alat yang relatif murah dan praktis dalam penggunaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....