Dari Dunia Komputer menuju Arti Tulus Melayani Publik
- 16 Sep 2026 19:38 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Tual - Awalnya Melati Renwarin Siswa SMK N 2 Kota Tual ini hanya kenal kabel LAN, router, dan konfigurasi IP Address. Sebagai siswa SMK jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT), dunianya sehari-hari berkutat di lab komputer. Tapi selama 1 bulan terakhir, keyboard dan server digantinya dengan meja pelayanan dan berkas kependudukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tual.
Melati mengatakan, selama magang sudah masuk pada 1 bulan lebih ini rasanya canggung di hari pertama magang di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota. Karena belum paham tentang pelayanan dan pekerjaan apa yang nantinya dilakukan padahal selama 1 bulan ini dirinya paham tentang dunia kerja khususnya melayani masyarakat untuk pengurusan administrasi kependudukan.
"Saya kira magang TKJT itu pasti di provider internet atau kantor IT. Ternyata saya ditempatkan di Capil. Jujur sempat bingung, apa hubungannya jaringan dengan KTP," kenang Melati sambil merapikan tumpukan formulir.
Ternyata hubungannya besar. Di era digital ini, semua data kependudukan masuk ke sistem. Server down, jaringan lemot, aplikasi SIAK error, maka pelayanan lumpuh. Dari situlah Melati mulai paham. Ilmu TKJT yang dia pelajari di sekolah, bisa dipakai untuk memastikan masyarakat bisa dilayani dengan cepat.
Setiap pagi Melati datang pukul 07.45 menit lebih awal. Tugasnya bukan cuma mengecek jaringan dan printer. Tetapi Ia juga membantu mengarahkan warga lansia yang kebingungan mengisi formulir, membantu ibu-ibu mengurus Akta Kelahiran anaknya, dan memandu pelajar SMA yang perekaman KTP pertama kali.
Ada satu momen yang tidak akan ia lupakan. Seorang ibu dari Tayando datang dengan wajah cemas karena butuh KK untuk berobat anaknya ke RSUD.
"Waktu saya bantu untuk kepengurusan KK hingga selesai di hari itu juga, bapak itu sampai salim dan bilang terima kasih nak. Disitu saya ngerasa, oh ini arti kerja," ujarnya sambil menunduk dan matanya berkaca-kaca.
Memang menghadapi dinamika masyarakat saat bekerja di pelayanan publik membutuhkan mental yang kuat. Kenapa karena selalu saja terjadi dinamika kecil dari masyarakat terkait dengan pelayanan yang mereka rasakan kurang maksimal. Tetapi semu itu merupakan tantangan besar yang harus dihadapi dan tetap semangat dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
"Selama saya magang memang terjadi salah paham warga dengan petugas dikarenakan berbagai keluhan mengenai persyaratan dan menunggu lama, hal ini membuat masyarakat merasa tidak puas di layani dengan baik, sehingga timbul adu mulut tetapi syukur dapat di atasi dengan baik." Ungkapnya kepada rri.co.id, Selasa (15/9/2026).
Kondisi ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para petugas pelayanan di Disdukcapil Kota Tual, Melati mengatakan baru merasakan bekerja di sektor pelayanan publik yang acap kali dihadapkan dengan dinamika masyarakat yang dinamis. Sebagai siswa magang tetap tegar dan menjadi baris depan untuk menerima setiap respons keluhan dengan lapang dada, dan ini akan menjadi momenyang sangat luar biasa dan pengalaman bagi saya kedepan nanti.
Menurutnya, keluhan masyarakat tidak dilihat sebagai hambatan, tetapi menjadi cermin untuk mempercantik dan menyempurnakan kualitas pelayanan, kadang rasa sedih juga ketika muncul keluhan masyarakat yang membuat tersinggung , rasa sedih yang sempat muncul justru di adopsi menjadi bahan bakar semangat untuk memberikan performa terbaik pada hari berikutnya.
Kenapa di katakan hari berikutnya, karena ada kaitannya dengan niat dan cita-cita ku harus menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan). Jadi pengalaman magang di Capil dimulai dari Agustus- Oktober mendatang akan saya lanjutkan apa yang saya rasakan selama ini menjadi pelajaran dan pengalaman untuk masa depan nanti.
Komitmenya tetap tersenyum dan sigap membantu masyarakat, apa pun situasi tetap menjadi prioritas utama. Melalui dinamika yang sering dialami pada instansi pelayanan publik terus membuktikan ajwa dedikasi dan ketulusan dalam mengabdi tidak akan luntur oleh tantangan di lapangan.
Kepala Disdukcapil Kota Tual melihat perubahan itu. "Anak-anak TKJT ini awalnya kikuk. Tapi lama-lama mereka fasih. Mereka bawa semangat baru. Pelayanan jadi lebih cepat karena mereka paham teknologi, tapi juga punya empati ke masyarakat," katanya.
Bagi Melati, magang di Capil mengubah cara pandangnya. Dulu dia pikir jadi anak TKJT itu harus duduk depan komputer seharian. Sekarang dia tahu, teknologi tanpa sentuhan manusia tidak ada artinya. "Ternyata jaringan paling penting itu jaringan antar manusia. Bagaimana kita bisa nyambung, bantu, dan bikin orang lain terbantu," ucapnya.
Tiga bulan berlalu cepat. Saat ini Melati sudah bisa menjelaskan perbedaan KTP-el, KIA, dan KK tanpa melihat catatan. Ia juga jadi teknisi dadakan saat WiFi di ruang pelayanan putus. Teman-temannya sesama TKJT pun mulai antusias. Mereka sadar, jurusan mereka tidak terbatas di satu ruangan server saja.
"Dari jaringan komputer ke pelayanan publik, saya belajar banyak. Belajar sabar, belajar komunikasi, dan belajar bangga melayani. Ternyata membahagiakan orang itu rasanya lebih ‘ngeh’ daripada berhasil setting router," tutup Melati sambil tersenyum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....