Keladi Waur, Rajutan Gotong Royong dan Berkah Ekonomi dari Jantung Kei Besar
- 30 Jun 2026 07:44 WIB
- Tual
RRI.CO.ID. Langgur_: Jika Anda berkunjung ke Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi salah satu primadona pangan lokalnya yakni Keladi Waur. Datang dari Desa Waur, Kecamatan Kei Besar, keladi ini bukan sekadar umbi biasa. Tekstur dagingnya yang sangat halus dan cita rasanya yang khas telah memikat lidah banyak masyarakat, menjadikannya salah satu komoditas pertanian yang paling diburu di pasar tradisional.
Daya tarik Keladi Waur ini mengakar kuat dalam ingatan Ibu Lena Maturbongs. Meski kini menetap di Langgur, Ibu Lena yang pernah tinggal di Desa Waur selalu bersemangat menceritakan keistimewaan panganan pusaka dari kampung tersebut. Bagi Ibu Lena, Keladi Waur adalah simbol kerja keras dan kebersamaan.
Rahasia di balik lezatnya Keladi Waur ternyata dimulai dari cara penanamannya yang sarat akan nilai budaya. Para petani di Desa Waur dikenal sangat rajin dan setia merawat tanah leluhur mereka. Proses melelahkan membuka lahan baru atau yang dikenal warga lokal dengan istilah pemiri kebun tidak pernah dipikul sendirian.
"Proses pemiri kebun itu melibatkan banyak orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka melakukannya dengan cara Maren atau bergotong royong," kisah Ibu Lena mengenang hangatnya suasana di desa.
Lewat tradisi Maren, beratnya pekerjaan menebar semak dan membersihkan lahan berubah menjadi ruang silaturahmi yang penuh tawa. Ibu Lena melanjutkan, setelah lahan selesai di-pemiri, tanah tersebut dibiarkan mengering selama beberapa hari.
"Setelah selang beberapa hari, lahan langsung dibakar lalu ditanami bibit-bibit keladi pilihan," tambahnya.
Ketika musim panen tiba, kegembiraan para petani beralih ke kebun. Pemilik lahan akan langsung memanen keladi-keladi yang sempurna. Sebagian dari hasil panen yang melimpah ini disisihkan untuk konsumsi keluarga di rumah, sementara sebagian besar lainnya siap diberangkatkan menuju pusat ekonomi di Pulau Kei Kecil.
Keladi Waur menempuh perjalanan laut dan darat untuk sampai ke Pasar Langgur. Di sana, kedatangan komoditas ini selalu dinanti-nanti oleh para pembeli setia. Hebatnya, meskipun dijual dalam kondisi mentah dengan harga yang relatif premium berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000 per tumpuk—Keladi Waur hampir tidak pernah sepi peminat. Harganya yang cukup tinggi menjadi bukti bahwa kualitas rasa dan kehalusan daging Keladi Waur memang berkelas dan diakui pasar.
Sadar akan besarnya potensi keladi ini, masyarakat dan pelaku usaha lokal tidak berhenti pada penjualan umbi mentah saja. Kini, Keladi Waur telah bersolek menjadi produk camilan modern yang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Keladi tersebut diiris tipis, digoreng renyah, dan diolah menjadi kerepek (keripik) keladi. Dengan kemasan yang lebih praktis, keripik Keladi Waur kini dengan mudah dapat dijumpai menghiasi etalase kios-kios di Maluku Tenggara. Inovasi ini tidak hanya memperpanjang masa simpan keladi, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas sebagai buah tangan khas dari bumi Larvul Ngabal.
Dari keringat gotong royong di lereng Kei Besar hingga menjadi renyah di dalam kemasan kios, Keladi Waur adalah cerita tentang bagaimana pangan lokal, jika dirawat dengan tradisi dan inovasi, mampu menopang ekonomi sekaligus menjadi kebanggaan daerah yang tak lekang oleh waktu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....